Komisi VIII DPR: PBB-OKI Harus Tangani Kekerasan di Masjid Al-Aqsa

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Senin, 10 Mei 2021 02:14 WIB
Wakil Ketua Komisi VIII Ace Hasan Syadzily
Foto: Ace Hasan Syadzily (detikcom)
Yerusalem -

Komisi VIII DPR mengecam tindak kekerasan yang dilakukan polisi Israel terhadap warga Palestina di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem. Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily mengatakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mesti turun tangan.

"Saya kira PBB dan negara-negara OKI harus turun tangan untuk menyelesaikan kekerasan berdarah ini. Kekerasan ini harus disudahi," ujar Ace dalam keterangannya, Minggu (9/5/2021).

Ace prihatin dengan aksi kekerasan yang dilakukan oleh polisi Israel tersebut. Menurutnya, aksi kekerasan tersebut tak seharusnya terjadi.

"Apalagi peristiwa ini terjadi di saat bulan Ramadhan di mana umat Islam Palestina yang seharusnya dapat menjalankan ibadah puasa dan serangkaian ibadah lainnya harus mengalami sejumlah kekerasan oleh tentara Israel," kata Ace.

Ace menambahkan Masjid Al-Aqsa seharusnya menjadi tempat yang damai untuk beribadah bagi warga muslim Palestina. Ia mengutuk keras aksi kekerasan yang dilakukan tentara Israel.

"Bentuk kekerasan apapun harus dihindari. Harusnya Israel menghormati warga muslim yang sedang beribadah di Masjid Al-Aqsa. Saya mengecam keras tindakan tersebut," kata Ace.

Sebagaimana diketahui, bentrokan berdarah antara polisi Israel dan warga Palestina yang ada di Masjid Al-Aqsa pecah. Bentrokan yang membuat ratusan orang terluka ini terjadi usai buka puasa.

Sedikitnya 178 warga Palestina mengalami luka-luka dalam bentrokan dengan polisi Israel di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, pada Jumat (7/5) malam waktu setempat. Polisi Israel menggunakan peluru karet dan granat kejut terhadap warga Palestina yang melemparkan batu ke arah mereka.

Seperti dilansir Reuters, Sabtu (8/5), bentrokan ini pecah saat kemarahan memuncak di kalangan warga Palestina terkait potensi penggusuran sejumlah keluarga Palestina dari rumah-rumah mereka yang tanahnya diklaim oleh para pemukim Yahudi yang menggugat ke pengadilan.

(isa/gbr)