Sosok Irfan Amalee, Tragedi Mei 1998 dan Kelahiran Peace Generation

Khairunnisa Adinda Kinanti - detikNews
Senin, 10 Mei 2021 06:30 WIB
Jakarta -

Irfan Amalee (44), pria asal Cibeureum, Bandung, yang berprofesi sebagai penulis buku dan juga salah satu pendiri dari Peace Generation. Ia membangun komunitas yang bergerak di bidang perdamaian itu bermula dari pengalaman terdahulu yang ia alami.

Semasa kecil Irfan Amalee terbiasa dengan lingkungan suku yang beragam dan agama yang berbeda. Namun merasa terkejut saat terjadi kerusuhan pada Mei 1998. Kontras dengan memori yang dia alami semasa kecil.

"Mulainya dari cerita personal waktu kecil, punya lingkungan yang sangat beragam. Walaupun di Indonesia tapi di tempat itu (daerah Barat kota Bandung), jumlah muslim dan agama-agama lain itu relatif seimbang. Kemudian ketika kuliah, tahun 1998 terjadi kerusuhan, ya. Saya cukup shocked melihat itu. Dan recall memori masa lalu," ujar pria yang langsung mengikuti kampanye perdamaian pada saat itu.

Sejak tahun 1998 Irfan aktif dalam mengkampanyekan Gerakan Anti Kekerasan. Kemudian tahun 2007 ia dan Eric Lincoln, temannya yang berasal dari Amerika membuat komunitas di bidang perdamaian, bernama Peace Generation.

"Jadi kami dengan teman-teman waktu itu di Ikatan Pelajar Muhammadiyah di 10 kota seluruh Indonesia mengkampanyekan gerakan anti tanpa kekerasan sampai tahun 2002. Jadi tahun 2007 Peace Generation berdiri itu sebenarnya itu seperti melanjutkan aja perjuangan yang sudah dimulai tahun 1998," kata Irfan menjelaskan berdirinya Peace Generation.

Peace Generation adalah sebuah komunitas yang mengajarkan tentang perdamaian ke anak-anak muda. Semuanya tertulis di sebuah buku. Eric Lincoln yang juga seorang konselor atau pembimbing yang mempunyai keahlian dalam melakukan konseling.

"Kami kolaborasi untuk bikin gagasannya, bikin buku sederhana yang bisa membantu anak-anak belajar tentang perdamaian, dan membantu guru-guru untuk mengajarkan perdamaian. Jadi awalnya dari buku, kemudian orang yang sudah belajar dan menerapkan itu mereka ngajarin lagi, mereka menyebarkan, bikin komunitas, akhirnya kita sebut mereka itu Agent of Peace," ujarnya.

Buku yang ditulis menjadi kitab sucinya Peace Generation. Di dalam buku tersebut terdapat 12 nilai dasar perdamaian yang diyakini untuk diterapkan ke anak-anak muda.

Tentu hal ini tidak langsung diterima baik oleh masyarakat. Apalagi Irfan Amalee dan Eric Lincoln mempunyai agama yang berbeda. Irfan sempat dianggap Kristenisasi, sebaliknya Eric justru dianggap Islamisasi.

"Apalagi saya nulisnya bareng Eric Lincoln, orang Barat. Misal di Aceh, saya dicurigai antek Amerika. Kemudian di beberapa sekolah Islam, dianggapnya ini Kristenisasi. Tapi di kelompok Kristen juga Eric Lincoln beberapa kali disangka Islamisasi," ujar Irfan Amalee.

Berkat kegigihan dan niat baiknya demi Indonesia damai, Irfan Amalee berhasil dan mendapatkan penghargaan untuk pertama kalinya dari British Council tahun 2009. Selain itu juga dapat penghargaan Global Alumni Australia Award, dan yang terakhir mendapat penghargaan dari Kick Andy Heroes.

Irfan Amalee mengakui bahwa semua yang telah diraih adalah cita-citanya dari dulu. Di dunia media, dan perdamaian. Sejak terlibat dalam aktivis perdamaian, Irfan merasa inilah yang dicarinya sejak lama.

"Ini cita-cita betul-betul gabungan dari passion saya, memang senangnya di sini, dunia media dan perdamaian. Kemudian mission saya juga. Sejak pertama kali terlibat dalam aktivis perdamaian (tahun 1998), saya merasa bahwa ini yang saya cari. Keahlian saya memang di sini, mengemas sesuatu menjadi mudah. Jadi profession saya juga. Jadi memang jalan hidup saya ini," ujar pria berkacamata ini.

Meneruskan program Peace Generation setiap tahun di bulan Ramadhan, Irfan mengadakan Peacesantren. Selang beberapa tahun berjalan, Irfan dan tim Peace Generation merasa bahwa perlu ada lembaga pendidikan untuk menguji bahan-bahan ajar sebelum disebarluaskan. Maka dibuatlah Peacesantren Welas Asih, yang terletak di Garut.

Irfan Amalee berpesan pendidikan perdamaian harus ditanam dalam waktu yang lama, harus sabar, dan menikmati prosesnya agar terlihat hasilnya. Jadi yang terlibat dalam proses belajar mengajar, baik guru maupun anak-anak, diharapkan bisa lebih bersabar.

"Untuk guru-guru yang ngajarin, kemudian anak-anak yang belajar memang harus sabar dan nikmati prosesnya. Karena apa yang terjadi sekarang, misalnya konflik, terorisme, ekstremisme, itu juga ditanamnya sudah lama, beberapa puluh tahun ke belakang, lewat pendidikan, lewat budaya," Pesan Irfan.

"Pendidikan perdamaian itu seperti lari maraton yang panjang, tidak jelas garis finisnya. Saya selalu mengatakan kepada orang-orang yang terlibat di pendidikan perdamaian itu ya staminanya harus panjang, napasnya juga harus panjang. Mungkin hasilnya tidak akan kelihatan dalam waktu dekat," lanjutnya.

Irfan juga menjelaskan bahwa damai itu bukan berarti tidak ada konflik. Tetap ada konflik namun diselesaikan dengan cara damai.

(fuf/fuf)