Perempuan & Orang Miskin Terpinggirkan Penguasaan Teknologi, Kenapa?

Nadhifa Sarah Amalia - detikNews
Sabtu, 08 Mei 2021 13:04 WIB
wanita
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) menggelar webinar yang mengambil tema "Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Untuk Mewujudkan Keadilan Sosial" pada hari Jumat (7/5) lalu. Webinar ini digelar dalam rangka Pra-Kongres PA GMNI yang akan dilaksanakan tanggal 21-23 Juni 2021 mendatang.

Wakil Ketua MPR sekaligus Ketua Umum Persatuan Alumni GMNI (PA-GMNI) Ahmad Basarah mengatakan webinar tersebut bertujuan mewujudkan keadilan sosial dan peradaban bangsa. Dia pun menilai pengembangan riset dan teknologi nasional harus berbasis pada keanekaragaman hayati, geografi dan seni budaya lokal yang bersumber nilai-nilai Pancasila dan kearifan lokal bangsa Indonesia.

Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Indonesia (BRIN) Laksana Tri Handoko menjelaskan bahwa Indonesia telah menjadi negara kedua terbesar yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati dan nonhayati. Kendati demikian, kesemuanya perlu ditopang riset dan teknologi.

"Fokus riset Indonesia ke depan pada digital, green, dan blue economy. Basisnya sumber daya lokal dan keanekaragaman hayati, geografis, serta seni budaya. Riset berperan penting dan menyokong keanekaragaman di Indonesia sehingga mempunyai nilai ekonomi," ujar Laksana Tri Handoko, dalam keterangannya, Sabtu (8/5/2021).

Ia memberikan contoh terhadap para perajin rotan yang sulit bersaing di pasar global karena hanya menjual bahan mentah. Di satu sisi, produk kerajinan rotan bisa ditolak di pasar Eropa jika tidak memiliki sertifikasi keamanan produk.

"Dunia ke depan bukan lagi digital atau elektronik melainkan bioteknologi. Kita yang punya banyak koleksi biodiversity, harus lebih unggul dibanding negara lain. Oleh karena itu, kita perlu melakukan refocusing pada kekayaan alam dan budaya kita lewat dukungan riset yang kuat," tuturnya.

Bagi Laksana, tantangan global dapat diatasi jika Indonesia memiliki data riset berbasis ilmiah, memperkuat SDM riset yang menarik anak muda Indonesia baik dalam maupun luar negeri, serta regulasi yang memberikan perlindungan kepada pemanfaatan keanekaragaman hayati.

Wakil Rektor Bidang Kerjasama UGM Paripurna Purwoko Sugarda mendukung pendapat Kepala BRIN soal kemajuan bangsa berbasis keanekaragaman hayati.

Ia menuturkan bahwa kebutuhan energi di Indonesia yang sangat besar dapat menjadi peluang untuk mengembangkan energi terbarukan (renewable energy). Indonesia punya potensi besar atas energi terbarukan seperti tenaga angin, air, ombak, tenaga surya, panas bumi, biomass, dan lain sebagainya.

"Agar menjadi pemenang bidang energi di tingkat ASEAN, Indonesia perlu mengembangkan biofuel dan biomass, mengembangkan strategi teknologi energi, mendorong energi terbarukan berbasis maritim, serta mendukung memperbarui limbah air sehingga dapat digunakan kembali," ujar Paripurna.

Purwoko juga mengatakan bahwa untuk melahirkan teknologi hingga hilirisasi tepat guna bukanlah hal yang sederhana. Tentu membutuhkan kolaborasi pentahelix, mulai dari institusi negara, lembaga riset, kolaborasi dengan BUMN dan sektor industri lain, menguatkan startup tanah air, bahkan harus cerdik menghadapi kompetitor teknologi dari negara lain.

"Mindset nasionalisme teknologi itu harus kita alami. Fanatik terhadap teknologi dalam negeri harus ada serta mencegah terburu-buru membeli teknologi asing dengan alasan lebih murah," tuturnya.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Bidang Riset,Teknologi, dan Informasi DPP PA GMNI Eva Kusuma Sundari menganggap bahwa perempuan masih terpinggirkan dalam masalah penguasaan teknologi dan akses pendidikan

Eva merujuk pada survei pengembang perangkat lunak global (2020), sebagian besar pengembang adalah berjenis kelamin laki-laki 91,5%, perempuan hanya 8,5%. Realitas pekerjaan pengembangan perangkat lunak didominasi pria.

"Adanya problem kultur tentang rendahnya perempuan yang berkiprah di bidang teknologi karena mereka sejak kecil tidak dididik sebagai risk taker yang boleh salah mengambil keputusan. Sementara laki-laki waktu kecil dididik sebagai risk taker," ujar Eva.

Solusi mengatasi kesenjangan tersebut, menurut Eva adalah dengan adanya dorongan agar pendidikan teknologi bisa diakses bagi perempuan dan anak miskin.

Ketua Bidang Riset,Teknologi, dan Informasi DPP PA GMNI tersebut menjelaskan bahwa karena biaya pendidikan teknologi mahal, terdapat masalah stigmatisasi terhadap perempuan dan anak miskin yang takut menjangkaunya. Hal ini harus diperangi supaya mereka mendapatkan akses pendidikan dan teknologi yang inklusif.

Sebagai penutup webinar, Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim mengingatkan kembali Pancasila sebagai falsafah dan ideologi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, perlu menyempurnakan cara mengajarkan Pancasila kepada anak.

Selama ini, pendidikan Pancasila lebih banyak pada hafalan tanpa dibarengi contoh dan teladan nyata sehari-hari. Akibatnya, nilai dan gagasan mulia Pancasila sulit diinternalisasi generasi muda.

"Kami ingin mengubah pendidikan Pancasila menjadi lebih holistik dan kreatif. Misalnya pembelajaran berbasis proyek-proyek sosial. Proyek-proyek sosial inilah yang akan membentuk pelajar Pancasila di lapangan," tutur Nadiem.

Nadiem menjelaskan dari program tersebut diharapkan para pelajar dapat mempelajari keberagaman bisa lewat pertukaran pelajar yang berbeda golongan, tingkat sosial ekonomi, agama, dan perbedaan lain. Mereka akan berbaur tidak hanya mencintai toleransi tetapi juga menjadikan toleransi bagian kehidupan sehari-hari.

Sebagai lembaga baru, BRIN diarahkan untuk melakukan konsolidasi sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi yang sebelumnya tersebar di beberapa institusi pemerintah. BRIN juga bertujuan menciptakan ekosistem riset standar global yang inklusif dan kolaboratif serta diharapkan dapat menghasilkan fondasi ekonomi yang berbasis riset yang kuat dan berkesinambungan.

Target dari BRIN adalah untuk melakukan konsolidasi lembaga riset utama pemerintah pada 1 Januari 2022, transformasi proses bisnis dan manajemen riset secara menyeluruh untuk percepatan peningkatan critical mass sumber daya manusia, infrastruktur, dan anggaran iptek; menjadikan Indonesia sebagai pusat dan platform riset global berbasis riset berbasis sumber daya alam dan keanekaragaman (hayati, geografi, seni budaya) lokal, serta mendorong dampak ekonomi langsung dari aktivitas riset dan menjadikan iptek sebagai tujuan investasi jangka panjang dan penarik devisa.

Webinar tersebut menghadirkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko; Wakil Rektor Bidang Kerjasama UGM dan Ketua DPD PA GMNI DIY Paripurna Poerwoko Sugarda serta Ketua Bidang Riset, Teknologi, dan Informasi DPP PA GMNI/Institut Sarinah Eva Kusuma Sundari. Webinar dipandu oleh Ketua Bidang Ideologi DPP PA GMNI dan Guru Besar ITB Nanang Tyas Puspito.

(mul/ega)