Pengamat: Menhan Prabowo Berhasil Tertibkan Kerja Sama Pertahanan

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Sabtu, 08 Mei 2021 10:52 WIB
Menhan Prabowo Subianto melakukan kunjungan kehormatan ke Korea Selatan (8/4/2021)
Foto: Dok. Kemhan
Jakarta -

Sejak dilantik, Menteri Pertahanan (Menhan) RI Prabowo Subianto kerap melakukan kunjungan ke sejumlah negara dalam rangka diplomasi pertahanan, seperti Inggris, Rusia, Jepang, dan Korea Selatan.

Safari itu disebut untuk memperkuat serta memodernisasi alutsista RI lewat penjajakan kemungkinan pengadaan dari negara produsen. Utamanya untuk alutsista yang tidak bisa dipenuhi oleh industri dalam negeri.

Pengamat militer dari Binus University, Curie Maharani menilai Prabowo patut diapresiasi lantaran dirinya dapat menertibkan kerja sama pertahanan satu pintu lewat Kementerian Pertahanan (Kemhan).

"Menhan berhasil menertibkan komunikasi dan prosesnya di bawah keamanan kemhan. Dan untuk memperlancar hubungan kita dengan industri luar memang perlu ada intervensi pemerintah lewat diplomasi pertahanan. Perkenalan ini bisa buka potensi kerja sama yang lebih luas lagi," kata Curie dalam keterangan tertulis, Sabtu (8/5/2021).

Hal ini dia ungkapkan pada acara diskusi virtual dengan tema Meninjau Diplomasi Pertahanan yang diadakan oleh Kajian Strategis Hubungan Internasional (KSHI), Sabtu (24/4). Dia berharap Prabowo bisa meraih pencapaian dari kunjungan ke luar negeri yang dilakukannya.

"Kita harap Prabowo bisa mendobrak kesulitan pengadaan yang dialami pendahulunya," katanya.

Sementara itu, pengamat militer dari Universitas Paramadina, Anton Aliabbas mengatakan dengan adanya insiden KRI Nanggala-402 beberapa waktu lalu, masyarakat perlu mendukung upaya Kemhan untuk meninjau rencana pembelian alutsista TNI. Hal ini agar pembelian alutsista turut mempertimbangkan kualitas, bukan hanya soal kuantitas.

"Tidak perlu glorifikasi kita negara pertama beli alutsista apa, tapi standing kita beli alutsista yang battle proven untuk menghindari kejadian yang dialami kapal selam kita," terangnya.

"Prabowo sudah punya agenda spesifik tertentu pada setiap kunjungan meski belum tentu efeknya langsung," lanjutnya.

Di sisi lain, menurut Pengamat Militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi langkah yang ditempuh Prabowo ibarat sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui sehingga layak diapresiasi. Sebab dia menyebut diplomasi pertahanan sejatinya merupakan sarana untuk mewujudkan kepentingan nasional di bidang pertahanan dan keamanan.

"Peranannya sangat strategis dalam menghadapi permasalahan yang ada, terutama agar eskalasi tidak meningkat ke arah konflik serta dapat saling memperkuat confidence building measures (CBM), keamanan hingga stabilitas kawasan," pungkasnya.

(mul/mpr)