Narasi Basi Isu 'Taliban' di Markas Antikorupsi

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 08 Mei 2021 04:02 WIB
Gedung baru KPK
Foto: Gedung KPK (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Di tengah polemik tes alih status pegawai KPK menjadi aparatur sipil negara (ASN) yang mendapat sorotan publik, isu Taliban kembali muncul dan dibantah. KPK kerap kali diisukan ada berisi kelompok Taliban, namun bolak-balik isu itu dibantah.

Mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas mengungkapkan informasi perihal 75 pegawai KPK tidak memenuhi syarat dalam tes alih status menjadi ASN. Busyro menyebut 8 dari 75 pegawai yang tak memenuhi syarat itu bukan beragama Islam.

"Saya ingin menyampaikan menurut berita-berita yang bisa kita baca dari media, dari 75 pegawai yang dinyatakan tidak lulus itu ada 8 pegawai KPK yang itu beragama Nasrani dan beragama Budha," kata Busyro dalam diskusi virtual bertajuk 'Menilik Pemberantasan Korupsi Pasca Tes Wawasan Kebangsaan dan Putusan Mahkamah Konstitusi Terkait KPK', Jumat (7/5/2021).

Busyro menyebut informasi 8 orang yang lolos tes alih status bukan beragama Islam ini menggugurkan isu pegawai 'Taliban' di KPK. Isu Taliban di dalam KPK, kata Busyro, justru bukti adanya upaya kotor terhadap KPK.

"Fakta ini menunjukkan bahwa isu radikal, isu 'Taliban', sama sekali memang tidak pernah ada. Justru itu membuktikan adanya radikalisme politik, radikalisme yang dilakukan oleh imperium-imperium buzzer yang selalu mengotori perjalanan nilai-nilai keutamaan bangsa ini," ucapnya.

Jauh sebelum isu Taliban di tengah polemik tes alih ASN pegawai KPK, memang KPK kerap diterpa isu tersebut dan dibantah. Busyro jauh-jauh hari, saat masih menjabat pimpinan KPK pun, sudah membantah isu Taliban ini.

Berikut rangkuman detikcom, Jumat (7/5/2021), bantahan isu Taliban di KPK:

1. Muncul Isu Taliban di KPK

Isu Taliban muncul sejak tahun 2019 dari Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane. Saat itu Neta menyebut ada isu perseteruan antara 'polisi Taliban' dan 'polisi India' di KPK.

"Sekarang berkembang isu di internal (KPK). Katanya ada polisi India dan ada polisi Taliban. Ini kan berbahaya. Taliban siapa? Kubu Novel (penyidik senior KPK, Novel Baswedan). Polisi India siapa? Kubu non-Novel. Perlu ada ketegasan komisioner untuk menata dan menjaga soliditas institusi ini," kata Neta dalam diskusi bertema 'Bersih-bersih Jokowi: Menyoroti Institusi Antikorupsi' di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Minggu (5/5/2019).

Neta menyayangkan konflik terjadi di lingkup internal KPK. Ia menilai konflik tersebut terjadi karena ketidaktegasan para pimpinan KPK.

"Sejauh ini para komisioner tidak tegas dan cenderung berpihak. Novel kan baru, harusnya mereka bersinergi menjaga soliditas. Jangan karena perkara Novel tidak terungkap, lalu menjadi alasan mereka sangsi terhadap institusi Polri. Novel sendiri kan anggota Polri dulunya," papar Neta.

Busyro MuqoddasBusyro Muqoddas (Ari Saputra/detikcom)

2. Busyro: Politisasi Isu 'Taliban di KPK'

Busyro Muqoddas pada tahun 2019 menepis soal isu radikalisme, khususnya 'isu Taliban' di lingkup internal KPK. Dia menduga isu Taliban tersebut dipolitisasi oleh Istana.

"Waktu saya masuk itu sudah ada Taliban-Taliban. 'Lha, kok Taliban to'. 'Pak ini tidak ada konotasi agama'. 'Lho kenapa?' Ini ikon Taliban itu menggambarkan militansi orang Afganistan, dan penyidik-penyidik KPK itu militan-militan. Ini ada Kristian Kristen, ini ada Kadek Hindu, ada Novel cs Islam. Jadi mereka biasa-biasa saja," kata Busyro kepada wartawan, Minggu (15/9/2019).

"Jadi Taliban itu tidak ada konteksnya radikal. Hanya itu dipolitisasi. Dan politisasi itu ada indikasi dari Istana," imbuh dia.

Tenaga Ahli KSP Ali Mochtar Ngabalin membantah tudingan dari mantan ketua KPK Busyro Muqoddas terkait isu Taliban di lembaga antirasuah itu. Ngabalin menyangkal itu tersebut dipolitisasi pihak istana.

"Tidak benar, nggak ada urusan. Cari isu lain dong, tidak usah itu begitu kemudian menyerahkan semua haluan kesalahan ke pemerintah," kata Ngabalin saat dihubungi, Minggu (15/9/2019).

3. Eks Ketua KPK: Di Mana Sih Talibannya?

Eks Ketua KPK Agus Rahardjo mempersilakan siapa pun datang ke KPK untuk membuktikan ada-tidaknya isu 'Taliban' yang berembus di tengah dinamika revisi UU KPK. Saat menjabat di KPK, Agus memastikan isu itu hanya isapan jempol.

"Kami undang mereka melakukan penelitian di KPK, siap kami membuka diri," kata Agus di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (16/9/2019).

Agus menyebut isu itu mendiskreditkan KPK. Padahal, menurut Agus, selama ini di KPK siapa pun yang bekerja selalu berlandaskan semangat pemberantasan korupsi.

"Saya silakan kalau mereka melakukan penelitian. Orang-orang dan profesor-profesor, mereka akan tahu dalamnya KPK," kata Agus.

"Wong setiap hari Jumat itu ada yang Jumatan di sini dan ada kebaktian. Jadi di mana sih Taliban-nya?" imbuh Agus.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya:

Selanjutnya
Halaman
1 2