Rekaman Palsu Beredar, Ini Fakta Sebenarnya soal Lion Air JT-610

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 04 Mei 2021 15:12 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi posko evakuasi Lion Air JT 610 di JICT 2 Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (2/11/2018). Jokowi minta pencarian korban terus dilanjutkan.
Puing-puing Lion Air JT 610 di JICT 2 Tanjung Priok, Jakarta Utara. (Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta -

Sebuah rekaman palsu yang disebut-sebut black box dari Lion Air JT-610 belakangan viral di media sosial. Diketahui pesawat tersebut jatuh di Laut Jawa sebelah utara Karawang, Jawa Barat, sekitar 3 tahun lalu.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pun memastikan rekaman itu bukanlah hasil unduhan FDR atau CVR black box Lion Air JT-610.

"KNKT memastikan bahwa rekaman tersebut bukanlah rekaman asli yang berasal dari unduhan FDR maupun CVR milik Lion Air JT-610. Dapat dikatakan bahwa data yang ditampilkan ini adalah asumsi dari si pengarang atau pemilik akun berdasarkan hasil laporan final yang telah KNKT keluarkan," kata Kepala Subbag Datin dan Humas KNKT Anggo Anurogo saat dikonfirmasi, Selasa (4/5/2021).

Lalu bagaimana fakta-fakta sebenarnya Lion Air JT-610 ini? Berikut ulasannya.

Jatuh di Karawang

Pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610 jatuh di Laut Jawa sebelah utara Karawang, Jawa Barat, pada 29 Oktober 2018. Saat itu, pesawat yang diterbangkan Pilot Bhavye Suneja dan kopilot Harvino itu hendak melakukan perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Depati Amir, Pangkalpinang.

Diketahui pesawat lepas landas dari Soetta pukul 06.20 WIB dengan membawa 189 orang, termasuk pilot, kopilot, lima pramugari, dan para penumpang. Pada pukul 06.22 WIB, terjadi masalah kontrol pesawat (flight control) sehingga sempat meminta lembaga pelayanan navigasi penerbangan AirNav kembali ke Soetta (return to base).

Saat jalur penerbangan dibuka, pukul 06.32 WIB, pesawat hilang kontak di perairan Karawang dan jatuh dari ketinggian 3.000 kaki di perairan Karawang. Akibat insiden itu, seluruh penumpang hingga pilot dan pramugari tidak selamat.

Pencarian Kotak Hitam Lion Air JT-610

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengerahkan Kapal Riset (KR) Baruna Jaya I untuk mencari kotak hitam pesawat Lion Air JT-610, yakni untuk CVR (cockpit voice recorder) dan FDR (flight data recorder).

Pada 1 November 2018 sekitar pukul 10.30 WIB, FDR ditemukan.

Hasil Investigasi KNKT

KNKT merilis hasil investigasi terkait faktor-faktor yang menyebabkan pesawat Lion Air JT-610 jatuh di Karawang pada 25 Oktober 2019. Ada 9 faktor yang disebut KNKT, yakni:

1. Asumsi terkait reaksi pilot yang dibuat pada saat proses desain dan sertifikasi pesawat Boeing 737-8 (MAX), meskipun sesuai dengan referensi yang ada ternyata tidak tepat.

2. Mengacu asumsi yang telah dibuat atas reaksi pilot dan kurang lengkapnya kajian terkait efek-efek yang dapat terjadi di kokpit, sensor tunggal yang diandalkan untuk MCAS dianggap cukup dan memenuhi ketentuan sertifikasi.

3. Desain MCAS yang mengandalkan satu sensor rentan terhadap kesalahan.

4. Pilot kesulitan melakukan respons tepat terhadap pergerakan MCAS yang tidak seharusnya karena tidak ada petunjuk dalam buku panduan dan pelatihan.

5. Tidak tersedianya indikator AOA DISAGREE di pesawat Boeing 737-8 (MAX) PK-LQP, berakibat informasi ini tidak muncul pada saat penerbangan dengan penunjukan sudut AOA yang berbeda antara kiri dan kanan sehingga perbedaan ini tidak dapat dicatatkan oleh pilot dan teknisi tidak dapat mengidentifikasi kerusakan AOA sensor.

6. AOA sensor pengganti mengalami kesalahan kalibrasi yang tidak terdeteksi pada saat perbaikan sebelumnya.

7. Investigasi tidak dapat menentukan pengujian AOA sensor setelah terpasang pada pesawat yang mengalami kecelakaan dilakukan dengan benar, sehingga kesalahan kalibrasi tidak terdeteksi.

8. Informasi mengenai stick shaker dan penggunaan prosedur non-formal Runaway Stabilizer pada penerbangan sebelumnya tidak tercatat pada buku catatan penerbangan dan perawatan pesawat mengakibatkan pilot ataupun teknisi tidak dapat mengambil tindakan yang tepat.

9. Beberapa peringatan, berulangnya aktivasi MCAS dan padatnya komunikasi dengan ATC tidak terkelola dengan efektif. Hal ini diakibatkan oleh situasi-kondisi yang sulit dan kemampuan mengendalikan pesawat, pelaksanaan prosedur non-normal dan komunikasi antarpilot, berdampak pada ketidakefektifan koordinasi antarpilot dan pengelolaan beban kerja. Kondisi ini telah teridentifikasi pada saat pelatihan dan muncul kembali pada penerbangan ini.

Tonton juga Video "Menhub: Keluarga Korban Lion Air JT-610 Tolak Santunan Karena Dispute":

[Gambas:Video 20detik]



(izt/imk)