Cerita Sedih Istri Awak KRI Nanggala Berharap Bisa Lihat Jasad Suami

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Selasa, 04 Mei 2021 14:11 WIB
Kadispenal Laksamana Pertama Julius Widjojono (Adhyasta-detikcom)
Kadispenal Laksamana Pertama Julius Widjojono (kiri) (Adhyasta/detikcom)
Jakarta -

Kadispenal Laksamana Pertama Julius Widjojono mengungkap cerita sedih saat mengunjungi rumah duka keluarga para awak KRI Nanggala-402. Dia menyebut istri dari awak Nanggala berharap jasad suami mereka bisa ditemukan.

"Ada yang punya ide, 'Pak boleh nggak baju PDU-nya dikuburkan? Di mana pun jadi seolah-olah suami kami di situ.' Coba rasanya gimana?" ujar Julius di RSAL, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Selasa (4/5/2021).

Julius mengatakan istri para awak kapal selam sangat bersedih atas musibah tenggelamnya kapal selam tersebut. Dia juga menyebut ada istri yang berharap ikut saja dengan suaminya.

"Saya di sana sama keluarga bagaimana rasanya itu. Mohon maaf, ini ibu-ibu, 'Papa, saya ikut. Papa, kenapa kamu di situ sendirian? Kenapa nggak ajak-ajak saya?'. Terus muka saya ditaruh di mana?" tuturnya.

Julius mengatakan TNI AL terus berupaya mengevakuasi jasad dan badan kapal selam yang tenggelam di perairan utara Bali tersebut. Dia mengatakan keluarga berharap jasad awak KRI Nanggala-402 yang gugur bisa ditemukan.

"Saya merasakan perasaannya dia itu seperti itu. Ingin melihat tubuh jasad suaminya. Coba you bayangin deh, 'Pak, bisa nggak bajunya saja dikuburkan biar kita melayatnya di situ, kita biar tabur bunga di situ'. Coba saya mau ngomong apa? Bapak KSAL sampai diam," jelas Julius.

Evakuasi badan KRI Nanggala-402 yang tenggelam di perairan utara Bali masih terus dilakukan. Asrena KSAL Laksamana Muda Muhammad Ali mengungkap kesulitan mengangkat badan kapal selam itu.

"Untuk mengangkat (KRI Nanggala-402) memang agak susah mungkin," ujar Ali di RSAL, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Selasa (4/5).

Ali mengatakan evakuasi badan kapal harus menggunakan pengait. Nah, pengait itu tidak bisa dipasang otomatis dari atas kapal di permukaan laut.

Menurutnya, pengait itu harus dipasang oleh penyelam atau robot. Hal ini menjadi salah satu kendala.

"Karena untuk menempelkan pengait dengan barang yang akan diangkat itu butuh tangan. Bisa penyelam, bisa robot," ujarnya.

Lihat juga Video: Komunitas Penyelam Makassar Tabur Bunga, Doakan Awak KRI Nanggala-402

[Gambas:Video 20detik]

(haf/haf)