Kasus Pembunuhan Racun di RI: Jessica Wongso hingga Sate Beracun

Tim detikcom - detikNews
Senin, 03 Mei 2021 13:36 WIB
poison 2
Ilustrasi racun sianida (Thinkstock)
Jakarta -

Racun yang terkandung dalam bumbu sate yang menewaskan anak driver ojek online (ojol), di Kabupaten Bantul, DIY, ternyata kalium sianida (KCN). Sianida memang sering kali menjadi alat mematikan yang digunakan pelaku pembunuhan.

Di Indonesia sendiri, kasus racun sianida yang menewaskan anak driver ojol itu bukanlah yang pertama. Sebelumnya, sejumlah kasus pembunuhan menggunakan racun sianida juga pernah menghebohkan Indonesia.

Berikut ini kasus-kasus pembunuhan menggunakan racun sianida yang menghebohkan Tanah Air:

1. Kopi Sianida Jessica Wongso

Pembunuhan Wayan Mirna Salihin. Kasus ini sempat menghebohkan Tanah Air pada awal 2016.

Perempuan berusia 27 tahun itu tewas setelah menyeruput segelas es kopi Vietnam di Kafe Oliver, Grand Indonesia, Jakarta, pada 6 Januari 2016.

Tim forensik kemudian menemukan zat beracun natrium sianida (NaCn) sebanyak 15 gram/liter pada sisa kopi Vietnam yang diminum Mirna. Racun mematikan itu juga ditemukan dalam lambung Mirna sebanyak 0,20 miligram per liter.

Polisi pun kemudian menetapkan teman Mirna, Jessica Wongso, sebagai tersangka. Majelis hakim memvonis Jessica 20 tahun penjara karena terbukti melakukan pembunuhan berencana dengan meletakkan racun sianida ke kopi Mirna.

2. Pembunuhan oleh Pimpinan Padepokan Satrio Aji

Kasus pembunuhan dengan menggunakan racun sianida oleh Anton alias Aji, pimpinan Padepokan Satrio Aji, di Kampung Sirap, Sukmajaya, Kota Depok, ini terjadi di tahun yang sama dengan kasus Mirna.

Sama seperti kasus Mirna, dua pria, Shendy dan Ahmad Sanusi, tewas setelah menenggak kopi yang dicampur dengan potasium sianida. Kasus itu terjadi pada September 2016.

Kasus bermula saat korban mendatangi Padepokan Satrio Aji. Pelaku kemudian menyuguhkan kopi yang langsung ditenggak oleh kedua korban. Belum habis kopi di gelas, keduanya langsung tumbang.

3. Pembunuhan Munir

Kasus pembunuhan dengan racun juga terjadi pada 2004. Munir Said Thalib dibunuh dengan racun arsenik, racun yang sama mematikannya dengan sianida.

Kasus ini bermula saat Munir melakukan perjalanan ke Amsterdam, Belanda, menggunakan Garuda Indonesia dengan nomor GA-974. Dua jam sebelum mendarat di Belanda, aktivis HAM itu dinyatakan meninggal dunia.

Pada 11 November 2004, Institusi Forensik Belanda (NFI) membuktikan Munir meninggal karena racun arsenik. Seorang pilot yang berada di pesawat yang sama dengan Munir, Pollycarpus Budihari Priyanto, kemudian dinyatakan terbukti bersalah melakukan rencana pembunuhan terhadap Munir.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Simak Video: Cerita Penerima Takjil di Bantul Berujung Hilangnya Nyawa Sang Anak

[Gambas:Video 20detik]