Jokowi Podcast Bareng Nadiem, Tanya Filosofi Ki Hajar Dewantara

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Minggu, 02 Mei 2021 19:03 WIB
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim membuat podcast bareng di peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2021. Jokowi bertanya kepada Nadiem terkait filosofi Ki Hadjar Dewantara.

Podcast Hari Pendidikan Nasional 2021 itu ditayangkan di akun YouTube Sekretariat Presiden seperti dilihat Minggu (2/5/2021). Nadiem menyapa terlebih dahulu Presiden Jokowi.

"Selamat sore Pak Presiden, apa kabar, Pak?" tanya Nadiem.

"Alhamdulillah kabar baik, sehat yang paling penting," jawab Jokowi.

Nadiem kemudian bertanya tentang makna Hardiknas di mata Presiden Jokowi. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan bangsa Indonesia harus selalu ingat semangat Ki Hajar Dewantara.

"Semangat Ki Hajar Dewantara ini yang kita harus ingat semuanya, bahwa pendidikan itu haruslah memerdekakan manusia, beliau menyampaikan itu, dan itu kita harus ingat semuanya. Karena bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan harus memerdekakan kehidupan manusia, kemerdekaan lah yang menjadi tujuan. Jadi kita di Indonesia dengan berbekal pendidikan semua orang boleh menjadi apa saja. Ini juga penting perlu digarisbawahi tapi selain itu harus juga menghormati kemerdekaan orang lain," papar Jokowi.

Jokowi mengatakan Hari Pendidikan Nasional harus dimaknai sebagai upaya memerdekakan manusia. Sekaligus, kata Jokowi, harus ada penghormatan juga terhadap kemerdekaan orang lain.

"Untuk itu saya mau mengingatkan berhubung hari ini adalah Hari Pendidikan Nasional agar sistem pendidikan Indonesia sekali lagi haruslah memerdekakan manusianya dan membangun jiwa dan raga bangsa," ujar Jokowi.

Barulah kemudian Jokowi bertanya kepada Nadiem mengenai filosofi Ki Hajar Dewantara. Nadiem dengan lugas menjawab filosofi yang dimaksud ialah filosofi merdeka belajar.

"Coba saya ingin juga bertanya kepada Mas Menteri, apa filosofi Ki Hajar Dewantara yang terkenal di dunia pendidikan?" tanya Jokowi.

"Tentunya filosofi merdeka belajar Pak Presiden, itu yang baru saja Pak presiden jelaskan, tapi ada satu lagi yang pakai bahasa Jawa. Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani," jawab Nadiem.

Nadiem menganalogikan filosofi tersebut ke dalam praktik pembelajaran di sekolah. Menurut dia, ada sekolah yang perlu menjadi teladan dan ada pula yang harus membimbing.

"Jadi bisa kita gunakan analogi sekolah, Pak, sekolah-sekolah di depan yang sudah lebih maju, sekolah-sekolah penggerak, mereka yang memimpin dan menjadi teladan. Sekolah-sekolah di tengah mereka membimbing kelasnya mereka melakukan transformasi di dalam dan sekolah-sekolah yang mungkin masih di belakang itu diberikan dorongan dan mereka harus meminta ke dinas ke pemerintah untuk bantu meng-upgrade saya jadi itu salah satu filsafat gotong royong tapi ekosistemnya, Pak, yang dikuatkan," tutur Nadiem.

Nadiem lalu bertanya. Kali ini dia bertanya tantangan mewujudkan pendidikan yang memerdekakan masyarakat, apalagi situasi saat ini sedang dilanda pandemi COVID-19.

"Ya ini kalau kita gunakan cara-cara lama ya pendidikan tidak bisa jalan di era pandemi ini, nggak akan bisa perlu cara-cara baru digital, hybrid dan kita harus cepat adaptasi harus adaptif, kreatif dan ada inovasi-inovasi terus. Situasi pandemi seperti saat ini tidak hanya dihadapi oleh Indonesia saja, semua negara mengalami lebih dari 215 negara mengalami dan pandemi ini mengubah secara drastis kehidupan kita," jawab Jokowi dalam podcast di Hari Pendidikan Nasional itu.

(knv/gbr)