Hardiknas 2021, Komisi X DPR Singgung Kesejahteraan Guru Honorer

Eva Safitri - detikNews
Minggu, 02 Mei 2021 08:11 WIB
YOGYAKARTA, INDONESIA - SEPTEMBER 28: Kharisma Anisa Putri (14), uses her broke screen smartphone for studying online using free wifi provided by the village as to help parents with financial difficulties, they pay 30,000 Indonesian Rupiah or around (USD 2) per month amid the Coronavirus pandemic on September 28, 2020 in Yogyakarta, Indonesia. According to the Indonesian Ministry of Education and Culture data nearly 70 million children have been affected by school shutdowns which started in mid-March. Since it closed on March 16, the school has implemented various methods and approaches to support distance learning. Even so, its implementation in the field still faces various obstacles. The problem is limited support facilities, such as laptops, smart phones, and internet data packages. In addition, parents also claim to not have enough time and feel they lack the knowledge to accompany children to learn online. Indonesia is struggling to contain thousands of new daily cases of coronavirus amid easing of rules to allow economic activity to resume. (Photo by Ulet Ifansasti/Getty Images)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti)
Jakarta -

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) jatuh pada hari ini. Komisi X DPR membeberkan terkait ketertinggalan pendidikan di Indonesia serta sejumlah hal yang belum tercapai. Salah satunya yakni kesejahteraan guru honorer.

"Kesejahteraan guru terutama honorer, kemudian data pendidikan yang masih belum optimal lalu penyebaran guru terutama di wilayah 3T dan Infrastruktur sekolah yang masih banyak tertinggal. Lalu juga kemampuan untuk masuk dunia teknologi dan digital," kata Anggota Komisi X, Dede Yusuf, kepada wartawan, Sabtu (1/5/2021).

"Alokasi 20% APBN yang belum semuanya dilaksanakan oleh Kemendikbud. Hanya 30% yang dikelola Kemendikbud. Sisanya tersebar di KL lain dan ke daerah. Jadi itu hal-hal spesifik yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pendidikan kedepannya," lanjut Dede.

Lebih lanjut, Dede meminta agar Kemendikbud membuat terobosan baru untuk mewujudkan dunia pendidikan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Salah satu di antaranya, membuat sistem pendidikan yang adaptif dengan perkembangan dan kebutuhan dunia kerja.

"Bikin sistem pendidikan kita adaptif dengan kemajuan perkembangan zaman dan kebutuhan dunia kerja," ujarnya.

Serta tidak lupa memprioritaskan kesejahteraan guru. "Jadikan guru sebagai pekerjaan berdaulat dan terhormat. Jadikan sekolah tempat pendidikan yang tidak mahal dan menyenangkan," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X, Hetifah Sjaifudian, menyebut pendidikan Indonesia sudah membuat beberapa terobosan baru untuk kegiatan mengajar di tengah pandemi ini. Mulai dari bantuan kuota hingga peltihan untuk guru.

"Ini kali kedua kita merayakan Hardiknas di tengah pandemi. Selama setahun lebih, dunia pendidikan dilaksanakan dengan berbagai keterbatasan. Tentu pembelajaran yang didapat juga berbeda dengan hari-hari biasanya. Meski demikian, banyak terobosan-terobosan yang sudah dilakukan, antara lain adanya bantuan kuota, pelatihan guru, serta transformasi pendidikan vokasi," ujarnya.

Dia berharap usai vaksinasi guru, pendidikan Indonesia dapat mengejar hal-hal yang tertinggal ke depannya.

"Di tahun ini, dengan gencarnya vaksinasi terhadap guru. Insya Allah kita akan dapat lagi segera melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas, dengan protokol yang ketat tentunya. Semoga seluruh satuan pendidikan dapat mempersiapkan hal tersebut, dan kita dapat segera mengejar ketertinggalan yang ditimbulkan," ujar Hetifah.

Simak juga 'Jokowi Yakin Jerman Dapat Perkuat SDM Indonesia Lewat Pendidikan Vokasi':

[Gambas:Video 20detik]



(eva/isa)