Pendidikan di Indonesia Dinilai Masih Suram

Eva Safitri - detikNews
Minggu, 02 Mei 2021 03:13 WIB
Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji
Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji (Foto: Rahel/detikcom)
Jakarta -

Hari ini merupakan peringatan hari pendidikan nasional (hardiknas). Seiring perkembangan teknologi yang meningkat pesat, pendidikan Indonesia saat ini masih dinilai suram.

Hal itu diungkapkan oleh Pengamat Pendidikan, Indra Charismiadji. Ada beberapa faktor yang dibeberkan, pertama yakni pembelajaran Indonesia yang belum berkembang, padahal teknologi sudah sangat modern.

"Kemendikbud saat ini kan seakan-akan memimpin sebuah pandangan kalau belajar daring itu negatif, dalam penjelasannya semua kan seperti itu tidak ada tatap muka dampaknya negatif warning lost dan lain sebagainya. Padahal sekarang kan era digital harusnya daring itu efektif, kita berharap sebetulnya kemendikbud ini yang diambil bukan dari orang pendidikan, yang dari perusahaan teknologi kita berharap bisa membawa pola belajar Indonesia dari digital kan," ujar Indra, kepada wartawan, Sabtu (1/5/2021).

Indra menyebut bukti dari ketidakmampuan mengubah pembelajaran menjadi digital yakni kegiatan PJJ yang diterapkan selama pandemi. Dia menilai pemerintah gagal.

"Pendidikan kita sangat suram karena tidak ada upaya untuk membenahi PJJ. Saya pribadi bisa membuktikan kalau PJJ bisa efektif, tapi ya tentunya caranya nggak seperti dulu, dengan cara ceramah, ngasih PR, ulangan, udah nggak gitu lagi," ujarnya.

"Saya menggerakkan kegiatan guru cerdas untuk mengajar daring secara optimal, dan itu bisa dilakukan, kalau Kemendikbud yang dipercaya ngurus pendidikan malah angkat tangan kan tambah lucu lagi. Kita yang tanpa anggaran bisa membuat perubahan mereka yang anggarannya Rp 80 T nggak bisa buat perubahan buat apa," lanjut Indra.

Indra kemudian menyoroti kinerja Nadiem Makarim yang selama 18 bulan memimpin sektor pendidikan. Indra mengatakan kinerja Nadiem hanya membuat kegaduhan.

"Catatan kedua adalah 18 bulan Nadiem Makarim memimpin kemendikbud yang ada adalah kegaduhan demi kegaduhan, semua kebijakannya membuat gaduh," ujarnya.

Simak selengkapnya

Selanjutnya
Halaman
1 2