Penyidik KPK Peras Wali Kota Tanjungbalai Ditahan, Ini Fakta Terbarunya

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Jumat, 23 Apr 2021 15:53 WIB
Penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju digiring petugas untuk mengikuti konferensi pers usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (22/4/2021). KPK menetapkan Penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju dan Pengacara Maskur Husain sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi penerimaan hadiah atau janji oleh penyelenggara negara terkait penanganan perkara Wali Kota Tanjung Balai Tahun 2020-2021. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/aww.
Penyidik KPK yang memeras Wali Kota Tanjungbalai (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
Jakarta -

Publik dikejutkan kabar penyidik KPK peras Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial. Penyidik KPK bernama AKP Stepanus Robin Pattuju itu kini sudah ditahan. Bagaimana fakta terbarunya?

"Untuk kepentingan penyidikan, tim penyidik melakukan penahanan terhadap pada tersangka, yaitu SRP dan MH masing-masing untuk 20 hari ke depan terhitung dimulai 22 April 2021 sampai 11 Mei 2021," kata Ketua KPK Firli Bahuri saat konferensi pers di gedung KPK, Jakarta, Kamis (22/4/2021) malam.

Lantas, bagaimana fakta-fakta kasus penyidik KPK peras Wali Kota Tanjungbalai?

Dapat Suap Rp 1,3 Miliar

Penyidik KPK peras Wali Kota Tanjungbalai dan menerima suap sebesar Rp 1,3 miliar. Pada Oktober tahun lalu, M Syahrial meminta bantuan kepada Robin agar pihaknya menghentikan penyidikan KPK terkait kasus korupsi di Pemkot Tanjungbalai.

"SRP bersama MH sepakat untuk membuat komitmen dengan MS terkait penyelidikan dugaan tindak pidana korupsi di pemkot tanjung balai untuk tidak ditindaklanjuti oleh KPK dengan menyiapkan uang sebesar Rp 1,5 miliar," kata Firli.

Atas persetujuan itu, M Syahrial kemudian memberikan uang itu kepada Robin secara bertahap.

"MS menyetujui permintaan tersebut dengan mentransfer uang secara bertahap kurang lebih 59 kali transfer kepada rekening milik saudara RA teman dari Saudara SRP dan juga MS memberikan uang secara tunai kepada SRP sehingga total uang yang telah diterima oleh SRP kurang lebih Rp 1,3 miliar," kata dia.

"Pembukaan rekening bank oleh RSP dengan menggunakan nama RA dimaksud telah disiapkan sejak Juni 2020 atas inisiatif MH," sambungnya.

Setelah uang lebih dari Rp 1,3 miliar diterima, Robin kembali meyakinkan M Syahrial bahwa akan menghentikan penyidikan KPK.

"Setelah uang diterima SRP kembali menegaskan kepada MS dengan jaminan kepastian bahwa penyelidikan dugaan tindak pidana korupsi di Pemkot Tanjungbalai tidak akan ditindaklanjuti oleh KPK," kata dia.

Terima Uang dari Pihak Lain

Penyidik KPK yang peras Wali Kota Tanjung Balai tersebut juga disebut menerima uang dari pihak lainnya.

"Dari uang yang telah diterima oleh SRP dan dari MS lalu diberikan kepada MH sebesar Rp 325 juta dan Rp 200 juta. MH juga diduga menerima dan pihak lain sekitar Rp 200 juta," tutur Firli.

Sepanjang Oktober 2020 hingga April ini, Robin diduga juga menerima uang dari pihak lain. KPK tengah mendalami pihak lain itu.

"Sedangkan SRP dari bulan Oktober 2020 sampai April 2021 juga diduga telah melakukan penerimaan uang dari pihak lain melalui transfer rekening bank atas nama RA kurang lebih Rp 438 juta. Ini akan kami dalami," tambahnya.

Dilaporkan ke Dewan Pengawas

Penyidik KPK yang peras Wali Kota Tanjung Balai juga dilaporkan ke Dewan Pengawas atas dugaan pelanggaran kode etik.

"KPK juga akan melaporkan dugaan pelanggaran kode etik sebagaimana dimaksud dalam pasal 37 B UU 19/2019 bahwa pelanggaran kode etik dilakukan pemeriksaan dan penyelesaian oleh Dewan Pengawas KPK," kata Firli.

Firli menambahkan pihaknya akan menindak tegas petugas yang melakukan pelanggaran.

Punya Harta Rp 461 Juta

Menurut Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) periode 2020 yang dilihat detikcom, Jumat (23/4/2021), Robin tercatat sebagai spesialis penyidik muda.

Penyidik KPK yang peras Wali Kota Tanjung Balai itu memiliki alat transportasi dan mesin, yakni dua motor dan satu unit mobil Honda Mobilio 2017 dengan nilai Rp 110 juta.

Lebih lanjut, Robin juga memiliki harta bergerak lainnya senilai Rp 512 juta. Dia juga tercatat memiliki harta berupa kas dan setara kas Rp 10 juta.

Sementara itu, Robin memiliki utang senilai Rp 172 juta. Total harta Robin mencapai Rp 461 juta.

(izt/imk)