Airlangga Minta Masyarakat Tak Khawatir Gelombang COVID-19 India

Erika Dyah Fitriani - detikNews
Jumat, 23 Apr 2021 15:20 WIB
Airlangga Hartarto
Foto: dok. Screenshot/detikcom
Jakarta -

India mengalami gelombang ketiga pandemi COVID-19. Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan masyarakat Indonesia tak perlu khawatir karena kondisi kedua negara berbeda.

"Terkait dengan third wave di negara India. Indonesia ini posisinya tidak sama dengan India, sehingga kita tidak perlu khawatir. Tentu sesuai arahan Pak Presiden kita harus ingat dan waspada, tetapi kita mempunyai penanganan yang berbeda," jelas Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Media Gathering Perkembangan Perekonomian Terkini serta Kebijakan Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN), Jumat (23/4/2021).

Ketua Komite Satgas Penanganan COVID-19 ini memaparkan sampai Kamis (22/4) dilaporkan jumlah kasus terinfeksi di Indonesia mencapai 15.930.965 orang. Adapun angka ini meliputi jumlah kematian yang mencapai 184.657 orang serta jumlah kasus baru sebanyak 314.835 orang.

Airlangga menilai Indonesia memiliki posisi berbeda dengan India sebab perkembangan kasus COVID-19 di Indonesia saat ini relatif terkendali. Menurutnya, perkembangan kasus di Tanah Air mengalami perbaikan sejak pemberlakuan PPKM Mikro.

Ia mengungkap dari adanya 25 Provinsi yang menjalankan PPKM Mikro, 12 provinsi di antaranya menunjukkan penurunan keterisian tempat tidur di RS (Bed Occupancy Rate/BOR) pada minggu ketiga bulan April. Adapun ke-12 provinsi tersebut adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, NTB, Kalimantan Utara, dan Papua.

Perkembangan penanganan COVID-19 di Indonesia juga mengalami peningkatan dengan adanya program vaksinasi. Ia menyebutkan realisasi dosis penyuntikan vaksin Indonesia berada di posisi 10 besar dunia dan termasuk 4 besar dunia dalam hal penyuntikan vaksin oleh negara bukan produsen vaksin.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan kenaikan kasus yang cukup tinggi di India disebabkan oleh dua hal utama. Pertama, karena memang adanya mutasi baru di sana. Kedua, karena terjadi penurunan kasus yang cukup drastis sejak bulan September dan banyak pelonggaran yang dilakukan terlalu cepat.

"Protokol kesehatan yang dilonggarkan terlalu cepat, festival keagamaan yang besar-besar itu diizinkan," jelasnya.

Budi menyebutkan terdapat sejumlah variants of concern baru di India seperti B117, B 1351, dan P1 yang lebih mengancam. Ia pun menilai kedua faktor utama ini mengakibatkan penularan terjadi kembali, terlebih dengan adanya mutasi baru yang menyebabkan angka kasus naik sangat tinggi.

"Ini pelajaran bagi kita semua agar bisa selalu berhati-hati dalam mengamati laju penularan kasus ini," sebutnya.

Melihat tren lonjakan kasus di India, Budi menilai adanya perbedaan dengan kondisi di Indonesia. Ia bersyukur karena program PPKM Mikro yang dibarengi dengan vaksinasi dinilai telah berhasil menekan angka kasus COVID-19.

Meski demikian, ia tetap meminta masyarakat untuk belajar dari pengalaman di India dengan selalu ingat dan waspada serta terus hati-hati melihat tren penularan kasus di Tanah Air.

"Ini jadi tugas kita bersama agar jangan mengulangi seperti yang terjadi di India. Lebih baik kita waspada dan hati-hati sejak awal. Terapkan saja protokol PPKM Mikro yang sudah terbukti bagus, tidak usah terburu-buru melonggarkan PPKM Mikro ini," pungkas Budi.

Simak video 'Kapan Vaksin COVID-19 Harus Diganti?':

[Gambas:Video 20detik]



(prf/ega)