Geledah Rumah Bos EDCCash, Polisi Temukan Senpi

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Kamis, 22 Apr 2021 17:24 WIB
Jakarta -

Polisi menggeledah rumah para tersangka pelaku investasi ilegal EDCCash, termasuk CEO EDCCash Abdulrahman Yusuf. Dalam penggeledahan itu, turut ditemukan senjata api Kaliber 9 mm yang diakui Abdulrahman sebagai miliknya.

"Pada saat geledah itu, ditemukan ada senjata api, kami menemukan ada senjata api Kaliber 9 mm, ini kita sedang lakukan pendalaman. Kemudian diakui bahwa senjata api ini milik tersangka AY," ujar Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Helmy Santika dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (22/4/2021).

Selain itu, Helmy mengatakan pihaknya menemukan senapan angin, airgun, dan senjata tajam dari para pengawal Abdulrahman. Jadi, lanjut Helmy, kasus kepemilikan senjata api ini menjadi perkara lain.

"Kemudian dari situ juga pada penggeledahan, kita juga menemukan dari beberapa orang yang merupakan pengawal dari tersangka AY kita geledah di kendaraan, kita temukan ada senjata tajam, senapan angin, dan airgun. Sehingga ini konstruksinya adalah kita buat jadi berkas perkara sendiri," tuturnya.

"Dari senjata yang 9 mm tadi kita kembangkan, kemudian kita berhasil tangkap beberapa tersangka lagi dan kita dapat 2 pucuk senjata lagi. Nah ini sedang dilakukan pendalaman apakah bagaimana perolehan dari senjata tersebut," sambung Helmy.

Dalam kasus kepemilikan senjata ini, Helmy menyebut ada empat tersangka. Mereka adalah Abdulrahman Yusuf, AH, AR, dan PN. Khusus Abdulrahman, dia juga tersandung kasus tindak pidana perdagangan.

Dari AH, polisi mengamankan satu pucuk senapan angin, satu unit parang panjang dan sarungnya, dan satu unit pisau sangkur. Kemudian, dari AR, ditemukan satu pucuk airgun Makarov, satu pucuk airsoft gun tipe Glok, satu buah golok, satu buah pisau, empat butir peluru 9 mm, tiga kotak gotri besi, dan dua butir peluru. Untuk tersangka PN, polisi hanya mengamankan sebuah pisau.

Atas perbuatannya itu, keempat tersangka dikenai UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Senjata Api. "Kalau senjata api, rekan-rekan pasti sudah tahu, UU Darurat nomor 12 tahun 1951," kata Helmy.

Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri mengungkap modus kasus investasi bodong EDCCash yang merugikan 57 ribu orang yang menjadi member. Polri menyebut setiap member diminta mentransfer uang senilai Rp 5 juta.

Para member dijanjikan dengan diam saja bisa dapat untung 0,5 persen setiap hari. Untuk per bulan, mereka dijanjikan keuntungan 15 persen.

"Jadi setiap member akan diminta untuk transfer Rp 5 juta, yang dari uang Rp 5 juta akan dikonversikan menjadi koin senilai 200 koin. Jadi Rp 4 juta untuk koin 200 koin. Kemudian Rp 300 ribu adalah untuk sewa cloud dan Rp 700 ribu untuk upline-nya," ujar Helmy dalam jumpa pers di Mabes Polri, Kamis (22/4).

(mae/mae)