Kepala Negara ASEAN ke Jakarta 23-24 April, Rekayasa Lalin Situasional

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Kamis, 22 Apr 2021 12:19 WIB
Gedung Sekretariat ASEAN diresmikan Jokowi hari ini. Sebelum menjadi gedung Sekretariat ASEAN, bangunan itumerupakan kantor Wali Kota Jakarta Selatan.
Gedung Sekretariat ASEAN (Rengga Sancaya/detikcom)

Lebih lanjut, Sambodo meminta maaf bila aktivitas pengamanan ini mengganggu masyarakat.

"(Disampaikan) permohonan maaf kepada masyarakat apabila perjalanan agak sedikit terganggu pada hari Jumat dan Sabtu saat kegiatan KTT ASEAN dilaksanakan," ujarnya.

Kegiatan KTT Asean ini diwarnai penolakan jaringan masyarakat sipil. Jaringan organisasi masyarakat sipil menolak kehadiran Jenderal Ming.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengatakan ormas yang menolak kehadiran Jenderal Ming itu adalah Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), FORUM-ASIA, Amnesty International Indonesia, Asia Justice and Rights (AJAR), Milk Tea Alliance Indonesia, Serikat Pengajar HAM (SEPAHAM), Human Rights Working Group (HRWG), Migrant CARE, Asia Democracy Network (ADN). Kemudian ada Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), Kurawal Foundation, Lembaga Kajian dan Advokasi Independensi Peradilan (LeIP) dan SAFEnet.

"Menolak kehadiran junta militer sebagai perwakilan Myanmar di ASEAN Special Summit, Kami merekomendasikan kepada ASEAN dan negara-negara anggotanya dalam ASEAN Special Summit untuk memberikan kursi representasi Myanmar di ASEAN Special Summit untuk National Unity Government sebagai pemerintahan Myanmar yang sah dan dipilih secara demokratis," Usman dilansir Antara, Selasa (20/4).

Selain itu, Regional Advocacy Associate dari Asia Justice and Rights (AJAR), Putri Kanesia, mengatakan dengan memberikan kursi di KTT ASEAN, itu sama halnya mendukung kudeta yang dilakukan militer Myanmar.

"Memberikan kursi representasi di ASEAN untuk pemerintahan yang sah berarti memberhentikan segala tindakan yang melegitimasi kekuasaan junta militer, baik di dalam Myanmar maupun di level internasional," kata Putri Kanesia.

Halaman

(sab/mei)