ADVERTISEMENT

Spotlight

KRI Nanggala-402, Kapal Selam Hilang Pertama di Indonesia

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 22 Apr 2021 04:44 WIB

Sebelumnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyebut kapal tersebut buatan Jerman tahun 79. Kapal ini sudah biasa dioperasikan oleh TNI.

"Kan itu kapal buatan Jerman tahun 79. Sudah biasa kita operasikan," kata Marsekal Hadi saat dihubungi detikcom, Rabu (21/4/2021).

Panglima TNI menyebut ada 53 prajurit TNI di dalam kapal selam KRI Nanggala-402 yang hilang kontak. Ketika hendak penembakan, KRI Nanggala-402 hilang kontak.

"Terakhir komunikasi ketika 04.30 mau laksanakan penembakan sudah tidak ada komunikasi," ucap Marsekal Hadi.

Marsekal Hadi menyebut bakal menggandeng Singapura dan Australia untuk mencari kapal selam yang hilang kontak.

Kadispenal Laksamana Pertama TNI Julius Widjojono menyebut kapal selam KRI Nanggala-402 hilang kontak dalam latihan penembakan torpedo.

"Setiap latihan pasti ada komunikasi antara unsur di atas air dan bawah air. Saat komunikasi itu tidak terjadi, maka kita mencari, kok tidak ada laporan di unsur bawah air. Lost contact," kata Julius.

"Sebelum kapal selam menembakan dengan peluru perang, itu latihan dulu. Paginya latihan torpedo, latihan dulu, siangnya baru nembak real...," ucap dia.

Sementara itu, per pukul 19.45 WIB, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispen AL) Laksamana Pertama TNI Julius Widjojono, mengatakan sejumlah KRI beserta bantuan dari Singapura sudah diterjunkan untuk membantu pencarian kapal selam KRI Nanggala-402. Dia menyebut proses evakuasi akan dilakukan setelah titik hilang kapal selam ditemukan.

"Kita kan sekarang melibatkan beberapa KRI, kita juga minta bantuan Singapura karena punya alat khusus nanti setelah diketahui titik titiknya baru kita lakukan evakuasi," jelas dia.

Pada kesempatan berbeda, Julius menyebut KRI-Nanggala hilang kontak di kedalaman 600 hingga 700 meter. Dia mengatakan kapal diduga mengalami black out. Menurutnya, kapal kehilangan kendali sehingga tak bisa timbul ke permukaan lagi.

"Kemungkinan saat menyelam statis terjadi black out sehingga kapal tidak terkendali," ucap Julius.

Julius mengatakan kapal selam juga tidak dapat melaksanakan prosedur darurat lantaran mengalami black out. Menurutnya, seharusnya ada tombol darurat agar kapal bisa kembali timbul ke permukaan.

"Kapal tidak terkendali dan tidak dapat dilaksanakan prosedur kedaruratan, harusnya ada tombol darurat untuk mengembus supaya kapal bisa timbul ke permukaan," ucapnya.

Dia lalu mengungkapkan terkait adanya tumpahan minyak di sekitar area tenggelam KRI Nanggala-402. Menurutnya, itu membuktikan adanya dugaan keretakan pada tangki BBM kapal selam.

"Terjadinya tumpahan minyak di sekitar area tenggelam, kemungkinan terjadi kerusakan tangki BBM (retak) karena tekanan air laut atau pemberian sinyal posisi dari KRI NGL-402," ungkap dia.

Tumpahan minyak terlihat di lokasi awal kapal selam KRI Nanggala-402 menyelam. Tumpahan minyak diduga terjadi karena keretakan pada tangki BBM ataupun sengaja dikirim sebagai sinyal lokasi.


(rdp/fjp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT