Deportasi adalah Tindakan Paksa Keluarkan Orang Asing, Ini Penjelasannya

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Rabu, 21 Apr 2021 14:33 WIB
Paspor Indonesia. dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Ilustrasi paspor / Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Kasus penistaan agama dan ujaran kebencian yang dilakukan Jozeph Paul Zhang bisa memungkinkan dirinya dideportasi dari Jerman. Deportasi adalah sebuah tindakan paksa untuk mengeluarkan seseorang dari wilayah negara yang dia tempati.

Selengkapnya, apa sih artinya Deportasi?

Berdasarkan KBBI Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, deportasi adalah pembuangan, pengasingan, atau pengusiran seseorang ke luar suatu negeri sebagai hukuman, atau karena orang itu tidak berhak tinggal di situ.

Menurut U Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, tertulis dalam pasal 1 ayat 36 bahwa deportasi adalah tindakan paksa mengeluarkan orang asing dari wilayah Indonesia.

Dalam pasal 75 ayat 1 tertulis bahwa 'Pejabat Imigrasi berwenang melakukan Tindakan Administratif Keimigrasian terhadap Orang Asing yang berada di wilayah Indonesia yang melakukan kegiatan berbahaya dan patut diduga membahayakan keamanan dan ketertiban umum atau tidak menghormati atau tidak menaati peraturan perundang-undangan'.

Kemungkinan Dideportasi

Deportasi adalah hal yang kemungkinan akan ditempuh Polri dengan pihak imigrasi Kemenkum HAM usai paspor Jozeph Paul Zhang dicabut. Hal itu disampaikan Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan.

"Ada (kemungkinan deportasi). Jadi kemungkinannya kuncinya setelah red notice dikeluarkan tentunya akan dikomunikasikan dengan pemerintah setempat. Pemerintah negara dia tinggal di Jerman," ujar Ramadhan di Mabes Polri, Selasa (20/4/2021)

Selain itu, Ramadhan mengatakan penyidik Polri bisa menjemput Jozeph ke Jerman. Jika dideportasi, Jozeph bakal dipulangkan oleh KBRI Berlin di Jerman.

"Bisa (dijemput Polri). Bisa dideportasi oleh KBRI Berlin di Jerman dan tentunya penyidik bisa menjemput ke sana," katanya.

"Proses yang dilakukan oleh penyidik itu tidak langsung, tetapi melalui sekretariat NCB Interpol Indonesia dan dikomunikasikan langsung ke Interpol yang ada di kota Lyon Prancis. Itu mekanismenya dan ini membutuhkan waktu, bisa seminggu atau lebih," sambung Ramadhan.

Sebenarnya ada sejumlah penyebab deportasi terjadi, seperti melanggar aturan masuk negara tanpa paspor atau ilegal, habisnya masa berlaku paspor atau izin tinggal, hingga penggunaan visa yang tidak sesuai.

Akui Sudah Lepas Status WNI

Jozeph Paul Zhang alias Shindy Paul Soerjomoelyono mengaku sudah melepaskan kewarganegaraan Indonesia. Hal itu disampaikannya dalam video terbaru di YouTube usai diburu Bareskrim.

"Oh iya, ini supaya temen-temen jangan membahas, gini, Saudara, saya ini sudah melepaskan kewarganegaraan Indonesia ya. Jadi saya ini ditentukan oleh hukum Eropa," ujarnya.

"Jadi temen-temen, udah, jangan membahas lagi mengenai masalah itu. Justru yang membuat saya repot sekarang adalah gereja-gereja yang menekan saya," sambungnya.

Jozeph Paul Zhang Masih WNI

Kemenkumham menegaskan JPZ masih sah sebagai WNI sesuai dengan data yang sudah dicek ke KBRI Berlin. Deportasi adalah langkah yang sedang diusahakan Polri untuk menindak sang tersangka kasus penistaan agama dan ujaran kebencian ini.

"Tidak ada data permohonan kehilangan kewarganegaraan atas nama yang bersangkutan (Jozeph Paul Zhang atau Shindy Paul Soerjomoelyono-red)," kata Direktur Tata Negara Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kemenkum HAM, Baroto, saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (20/4/2021).

"Yang bersangkutan tidak terdata sebagai orang yang dinyatakan kehilangan WNI," lanjutnya.

Ditambahkan dengan koordinasi penyidik dengan atase Polri pada KBRI Berlin di Jerman, nama JPZ tidak termasuk dalam data orang-orang yang mengganti kewarganegaraan di Jerman sejak 2017.

"Artinya apa? Melihat data tersebut JPZ masih berstatus WNI dan memiliki hak dan kewajiban untuk mengikuti aturan hukum yang berlaku di Indonesia," imbuh Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan saat jumpa pers di Mabes Polri, Selasa (20/4/2021).

(izt/imk)