Cak Imin Dinilai Terlalu Tangguh untuk Dikudeta

Tim detikcom - detikNews
Senin, 19 Apr 2021 13:37 WIB
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar berfoto menjelang pembukaan Muktamar V PKB di Nusa Dua, Badung, Bali, Selasa (20/8/2019). Muktamar V PKB akan dibuka pada Selasa malam dan rencananya akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/pd.
Cak Imin (Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf).
Jakarta -

Isu muktamar luar biasa (MLB) untuk mendongkel Ketua Umum Muhamimin Iskandar menerpa Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pertanyaannya, bisakah riak-riak MLB itu menumbangkan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin.

Doktor politik yang mengajar di Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam, menyebut dinamika konflik internal di PKB perlu diantisipasi. Umam mencatat PKB memiliki sejarah konflik internal yang cukup panjang.

"Bahkan, faksionalisme internal PKB pernah menjebak PKB dalam degradasi elektabilitas yang cukup fatal. Benih-benih fragmentasi politik internal PKB sudah terjadi sejak Pemilu 1999 dan turunnya Gus Dur dari posisi Presiden RI ke-4," kata Umam kepada wartawan, Senin (19/4/2021).

Umam mengatakan PKB kembali mengalami perpecahan pasca Pemilu 2004 yang ditandai dengan lahirnya PKNU. Di Pemilu 2004, PKB masih bisa mempertahankan 51 kursi, tapi akhirnya terjun bebas menjadi 27 kursi DPR RI pada Pemilu 2009 akibat konflik internal yang cukup fatal.

Meski demikian, Umam menilai kepemimpinan Cak Imin cukup berhasil dalam mengkonsolidasikan kekuatan internal PKB sehingga dapat bangkit kembali pada Pemilu 2014. Dia mengungkit keberhasilan PKB mendapatkan lebih dari 50 kursi DPR.

Dosen Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam (Dok. Pribadi).Dosen Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam (Foto: Dok. Pribadi).

"Kemampuan konsolidasi paling optimal PKB di bawah kepemimpinan Cak Imin terjadi di Pemilu 2019 lalu, di mana masuknya nama Ma'ruf Amin dalam bursa cawapres mendampingi incumbent Presiden Jokowi, berpengaruh signifikan dalam mengkonsolidasikan sel-sel politik Nahdliyin, utamanya PKB," ujar Umam.

"Meskipun perolehan suaranya di atas NasDem, tapi karena suara PKB selalu terkonsentrasi di Jawa Timur dan Jawa Tengah, akhirnya konversi kursinya berada di bawah NasDem (59), selisih satu kursi dengan PKB (58)," imbuhnya.

Meski demikian, doktor politik lulusan University of Queensland, Australia, itu menilai PKB tetap perlu menyiapkan antisipasi. Dia menyebut konflik PKB kerap susah diredam.

Umam menyebut konsolidasi kekuatan kontra Cak Imin kemungkinan dikonsolidasikan elemen-elemen internal yang selama ini terbuang dari lingkaran elite PKB. Sejumlah nama mantan sekjen yang terpental, katanya, berpotensi menjadi penopangnya.

"Namun sebagai simbol perlawanan utamanya, sepertinya nama Mbak Yenny akan dipersiapkan untuk mengkonsolidasikan kekuatan-kekuatan mereka yang kecewa. Sebagai trah keluarga Ciganjur, sel-sel politik Mbak Yenny sudah mulai menggugat legitimasi politik Cak Imin dengan mengingatkan bagaimana sikap masa lalunya terhadap Gus Dur," sebut Umam.

Baca selengkapnya di halaman selanjutnya.

Simak juga 'Said Aqil Sapa Cak Imin Capres 2024 di Seminar PMII IAIN':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2