Blak-blakan Habib Novel Alaydrus

Habib Novel, Dakwah karena Ancaman Ibu - Batasi Jumlah Santri

Deden Gunawan - detikNews
Minggu, 18 Apr 2021 08:58 WIB
Jakarta -

Aktivitas dakwah sudah mulai ditekuni Habib Novel Alaydrus sejak masih pelajar di SMP Islam Diponegoro. Bahkan, sejak memasuki SMA, dia membentuk majelis pengajian di rumah seorang temannya. Walau begitu, hasrat terbesar Habib Novel Alaydrus adalah bisnis. Dia merasa punya bakat besar untuk mencari nafkah di luar jalur dakwah.

"Saya kepingin bekerja, cari duit untuk bantu orang tua," kata putra sulung pasangan Muhammad Alaydrus dan Luluk Al-Habsyi itu dalam program Blak-blakan yang tayang di detikcom, Senin (12/4/2021).

Tapi sang Ibu justru melarang Habib Novel Alaydrus bekerja. Ia juga tak direstui meneruskan pendidikan ke bangku kuliah umum di luar kota. Habib Novel akhirnya belajar bahasa Arab di pesantren Darul Lughah wad Dakwah di Pasuruan. Belajar bahasa Arab ini juga atas nasihat kakeknya bahwa dengan menguasai bahasa Arab akan mendapatkan ilmu Laduni.

Dari Darul Lughah, Habib Novel kemudian rutin berguru kepada Habib Anis bin Alwi Al-habsi di Solo sejak 1995. Ketika sang Guru wafat pada 2006, dia lantas membentuk Majelis Ar-Raudhah. Nama majelis ini diambil dari nama masjid milik sang guru, Riyadhul Jannah.

Habib Novel mengaku menekuni jalur dakwah karena ancaman sang ibu. "Kalau kamu berhenti berdakwah, ibu pun tak akan ridho dunia-akhirat," ujarnya menirukan ucapan sang ibu. Padahal, ia melanjutkan, kala itu dia sangat ingin bekerja, mencari uang, justru untuk membantu ekonomi keluarga.

Rupanya, saat masih mengandung Habib Novel, Ibu Luluk Al-Habsyi pernah bermimpi didatangi oleh almarhum Habib Soleh Al-hamid Tanggul, yang memberinya sebuah kitab berbahasa Arab yang cukup tebal. Luluk meyakini bahwa kitab yang dimaksud adalah anak yang tengah dikandungnya itu.

Nama Novel diberikan oleh sang ayah untuk meneladan Habib Salim bin Jindan, yang menamakan putranya dengan nama Nauval. Harapan Muhammad Alaydrus agar kelak anaknya ini menjadi singa podium seperti Habib Salim bin Jindan. "Iya, nama asli saya adalah Nauval, tapi petugas salah tulis jadi Novel. Tapi artinya sama-sama bagus kok, dermawan atau pemuda yang tampan," kata Habib Novel Alaydrus.

Pada 2006, dia merintis Majelis Ar-Raudhah di kediaman ibunya. Selang sebulan, jumlah jemaah melonjak dari 30 menjadi 300 orang. Seiring dengan itu, dia mulai mencicil membeli lahan. Namun tetap tak bisa menampung karena jumlah jemaah pun terus meningkat hingga ribuan orang. Sekarang, di atas tanah seluas 1.800 m2, dia mendirikan Masjid dan Pesantren Ar-Raudhah.

Tapi, atas nasihat KH Thoifur Mawardi, jumlah santrinya sengaja dibatasi sekitar 30-70 orang saja. Dia ingin fokus mengajar santrinya sendiri. "Kalau terlalu banyak, saya takut tak bisa mengurus mereka dengan baik," ujarnya merendah.

(jat/jat)