BMKG Pastikan Air Laut Naik di Lembata NTT Bukan Fenomena Tektonik

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Sabtu, 17 Apr 2021 02:10 WIB
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawarti
Foto: Dwikorita Karnawati (Andhika Prasetia-detikcom)
Jakarta -

Warga di Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), dihebohkan dengan kenaikan air laut atau tsunami. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan tidak ada fenomena tektonik sehingga menimbulkan tsunami.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati awalnya menjelaskan bahwa BMKG telah berkoordinasi dengan BMKG NTT untuk menelusuri adanya informasi kenaikan air laut di Lembata. Berdasarkan data di pusat BMKG tidak ada aktivitas gempa kuat sehingga menimbulkan tsunami.

"Tadinya kami khawatir naiknya air itu dipicu gempa, tadinya, tapinya setelah dicek gempa yang terjadi itu lemah, kurang dari 5, mungkin 4 atau kurang, dan itu tidak memicu tsunami dan dibuktikan dengan data monitoring muka air laut itu tidak ada kenaikan yang signifikan," kata Dwikorita kepada detikcom, Sabtu (17/4/2021).

"Sehingga kami menyimpulkan itu bukan tsunami atau pun bukan fenomena tektonik," tegasnya.

Tak berhenti mengecek data di BMKG, Dwikorita mengecek data aktivitas Gunung Ile Lowotolok di aplikasi telepon seluler yang dikelola oleh Badan Geologi. Aktivitas Gunung Ile Lowotolok di aplikasi itu memang terpantau siaga.

Dwikorita sempat menghubungi Badan Geologi soal informasi naiknya air laut, namun belum mendapatkan respons. Akhirnya, Dwikorita tak bisa menyimpulkan naiknya air laut di Lembata karena aktivitas Gunung Ile Lowotolok yang jaraknya berdekatan dengan Lembata.

"Sekarang ini kalau kita lihat dari aplikasi mobile phone Magma Indonesia, yang dikelola Badan Geologi, memang di wilayah tersebut sedang ada aktivitas gunung api Ile Lowotolok. Nah itu kalau saya lihat dari aplikasi itu levelnya siaga, siaga itu level 3, yang tertinggi level 4, jadi kalau kegiatan aktivitas erupsi nampaknya sedang berproses dan itu yang memonitor Badan Geologi, jadi kami tidak akses data jadi hanya sekadar untuk kewaspadaan," ujarnya.

Dwikorita mengatakan sejumlah warga yang sempat panik mencari tempat yang lebih tinggi telah diminta kembali oleh Tagana dan pihak kepolisian. Namun, BMKG tetap memantau aktivitas air laut di Lembata untuk kewaspadaan dini.

"Kembali kenaikan muka air laut itu, kalau dari data kami tidak terdeteksi, tidak ada, sehingga juga gempanya juga sangat lemah, tidak mengkhawatirkan dalam hal tektonik saat ini," imbuhnya.

(rfs/rfs)