Kabar Terbaru Vaksin Anhui, Kini Uji Klinis Fase III

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Jumat, 16 Apr 2021 17:51 WIB
Covid-19: Uji klinis vaksin Anhui, apa bedanya dengan Sinovac?
Ilustrasi Vaksin Anhui (Foto: BBC Magazine)
Jakarta -

Vaksin Anhui kini telah memasuki uji klinis fase III tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran mulai Rabu (3/3). Uji klinis ini akan dilakukan di 6 lokasi rumah sakit di Bandung dengan melibatkan sekitar 2.000 relawan dan di Jakarta dengan jumlah relawan yang sama.

Seperti dilansir dari BBC, Jumat (16/4/2021), Vaksin COVID-19 Anhui dikembangkan Anhui Zhifei Longcom Biopharmaceutical, perusahaan farmasi yang juga mengembangkan vaksin meningitis untuk jemaah haji dan umrah di Indonesia. Uji klinis vaksin Anhui ini disponsori oleh PT BCHT Bioteknologi Indonesia, selaku perusahaan penanaman modal asing dari Anhui.

Sebelumnya, vaksin Anhui telah melewati uji klinis fase 1 dan 2 di China. Fase 1 melibatkan 50 orang dan fase 2 sebanyak 900 orang.

"Berdasarkan summary report yang kami dapat untuk fase 1 dan fase 2, (hasilnya) aman untuk vaksin rekombinan ini. Namun sama halnya dengan vaksin lain, kemungkinan terjadi reaksi di tiap orang atau muncul efek samping sebagai kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI), bisa ada reaksi lokal, bisa reaksi sistemik. Untuk gejala lokal, sama seperti vaksin lainnya, gatal dan nyeri di lokasi suntikan, kalau sistemik demam atau pusing," kata juru bicara tim uji klinis vaksin rekombinan COVID-19 Anhui Universitas Padjadjaran (Unpad) fase 3, Muhammad Faisal, saat dihubungi, Rabu (03/03).

Peneliti utama uji klinis fase III vaksin rekombinan COVID-19 FK Unpad dr Rodman Tarigan, Sp.A(K), M.Kes, menjelaskan hasil uji klinis fase I dan II dari vaksin rekombinan Anhui ini dinyatakan aman dan memberikan kekebalan yang sangat bagus. Di tahap uji klinis fase III, tim akan menentukan tingkat kemanjuran vaksin Anhui.

"Kita berharap tentunya efikasinya di atas ambang batas WHO, di atas 50%," jelasnya.

Lebih lanjut Rodman juga mengatakan bahwa vaksin Anhui memiliki kelebihan dibanding vaksin lainnya.

"Berbeda dengan vaksin yang menggunakan platform berupa virus yang dilemahkan atau virus yang dimatikan. Vaksin rekombinan berbasis platform spike glycoprotein (protein S) dari Novel Corona virus, secara teori dapat memicu pembentukan titer antibodi yang lebih tinggi dan mampu memberikan proteksi yang lebih komprehensif," ujarnya.

Menurut laporan dari laman resmi Universitas Padjadjaran, uji klinis akan berlangsung selama 12 sampai 14 bulan. Relawan yang terlibat akan disuntik vaksin atau plasebo selama tiga kali dengan interval satu bulan sekali. sambil memantau kondisi selama uji klinis berlangsung.

Nantinya, hasil uji klinis akan dilaporkan ke BPOM untuk dijadikan pertimbangan untuk menerbitkan Izin Penggunaan Darurat atau Emergency Use Authorization (EUA). Diperkirakan EUA paling cepat akan dikeluarkan pada September 2021.

(izt/imk)