Di Pertemuan G20, RI Beberkan Cara Atasi Tantangan Era Digitalisasi

Angga Laraspati - detikNews
Jumat, 16 Apr 2021 16:32 WIB
Sekjen Kemnaker Anwar Sanusi
Sekjen Kemnaker Anwar Sanusi (Foto: Kemnaker)
Jakarta -

Indonesia dan negara-negara G20 berupaya mencari formulasi tepat agar ketenagakerjaan mampu mengimbangi double-disruption dari perkembangan digitalisasi dan pandemi. Sekjen Kementerian Ketenagakerjaan Anwar Sanusi pun mengatakan Indonesia punya strategi dalam mengatasi tantangan era digitalisasi.

Dalam pertemuan G20 Second Employment Working Group (EWG) yang dilakukan secara online, Kamis (15/4), Anwar mengatakan strategi yang dimiliki Pemerintah Indonesia melalui Kemnaker di antaranya mengurangi kesenjangan sosial antara usaha besar dan usaha kecil menengah.

"UMKM perlu beralih ke dalam bentuk kewirausahaan berbasis inovasi Digital Fabrication/Talent Hub serta memprioritaskan masyarakat yang rentan seperti pengangguran, kelompok NEET (Not in Employment Education Training), penyandang disabilitas, pemuda dan wanita yang membutuhkan perlindungan sosial dan insentif lebih banyak," kata Anwar dalam keterangan tertulis, Jumat (16/4/2021).

Anwar menjelaskan pada era digital saat terdapat peluang bagi pemerintah dalam mengembangkan daya saing pekerja agar mampu berkarya dan menguasai dunia digital. Hal ini diperlukan karena perkembangan digitalisasi dan dampak pandemi COVID-19 telah menciptakan double-disruption terhadap ekosistem ketenagakerjaan.

"Berbagai langkah-langkah diambil pemerintah dalam memanfaatkan peluang ini yang pertama, mengoptimalkan partisipasi pekerja dalam era digital; kedua, mengikutsertakan pekerja dalam program jaminan sosial publik untuk meningkatkan perlindungan mereka; ketiga, peningkatan kompetensi secara berkelanjutan," tuturnya.

Anwar Sanusi menambahkan era digitalisasi juga berpengaruh terhadap situasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Sebab, saat ini bidang ketenagakerjaan mengalami perubahan dalam kondisi kerja, jam kerja, serta lingkungan kerja yang dapat menimbulkan potensi bahaya (hazard) baru bidang K3.

"Dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang kondusif serta memberikan perlindungan ketenagakerjaan, pemerintah masih menyusun kebijakan publik yang sejalan dengan munculnya Future of Work melalui dialog sosial dengan melibatkan tripartit dalam membangun pasar kerja yang fleksibel dan menciptakan lapangan kerja berkualitas," ucapnya.

Pada pertemuan ini, Anwar juga menyampaikan dukungan Indonesia terhadap isu yang dikemukakan oleh Presidensi G20 Italia, Carmelo Barbarello, mengenai pola kerja. Anwar berharap dari pertemuan kedua G20 Employment Working Group (EWG) dapat memberikan kontribusi yang konkrit terhadap pemulihan perekonomian melalui sektor ketenagakerjaan.

"Saya mendukung Presidensi Italia atas inisiasinya dalam forum EWG II ini untuk membahas kontribusi terhadap implementasi G20 Youth Roadmap 2025 sebagaimana yang kita komitmenkan pada tahun 2020," imbuh Anwar.

(fhs/ega)