Round-Up

Duit Miliaran hingga Peran Antam Novambar Terungkap di Dakwaan Edhy

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 16 Apr 2021 07:38 WIB
Eks Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo kembali diperiksa KPK. Ia diperiksa terkait kasus korupsi eskpor benih lobster yang menjerat dirinya.
Edhy Prabowo (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Jumlah uang yang diterima mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo terkait ekspor benur terungkap dalam sidang. Total uang suap yang diterima Edhy melalui anak buahnya senilai Rp 25,7 miliar.

Edhy Prabowo didakwa bersama stafsus dan Ketua Tim Uji Tuntas Perizinan Budi Daya Lobster Andreau Misanta Pribadi, dan Safri selaku stafsus Edhy dan Wakil Ketua Tim Uji Tuntas, Amiril Mukminin selaku sekretaris pribadi Edhy, dan Ainul Faqih selaku staf pribadi istri Edhy Iis Rosita Dewi, serta Sidwadhi Pranoto Loe selaku Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PT PLI) dan pemilik PT Aero Citra Kargo (PT ACK).

"Terdakwa melalui Amiril Mukminin dan Safri telah menerima hadiah berupa uang sejumlah USD 77 ribu dari Suharjito selaku pemilik PT Dua Duta Perkasa Pratama (PT DPPP), dan terdakwa melalui Amiril Mukminin, Ainul Faqih, Andreau Misanta Pribadi, dan Siswashi Pranoto Loe menerima hadiah berupa uang sebesar Rp 24.625.587.250 atau sekitar jumlah tersebut dari Suharjito dan para eksportir BBL lainnya," ujar jaksa KPK saat membacakan surat dakwaan, Kamis (15/4).

Proses Penerimaan Uang USD 77 Ribu

Jaksa mengungkapkan awal Edhy Prabowo menerima uang USD 77 ribu yang berasal dari Komisaris PT DPPP Suharjito. Uang itu diterima Edhy melalui Safri dan Amiril Mukminin.

Awalnya, Suharjito mengajukan permohonan izin budidaya dan ekspor benur. Namun permohonan itu dipersulit.

Karena izin tak kunjung didapat, Suharjito memerintahkan anak buahnya bernama Agus Kurniyawanto dan Ardy Wijaya menanyakan kelanjutan izin itu ke Safri. Safri, kata jaksa, menyarankan ke Agus dan Ardy agar PT DPPP menyerahkan uang komitmen ke Edhy senilai Rp 5 miliar jika ingin prosesnya cepat.

"PT DPPP harus memberikan uang komitmen kepada terdakwa melalui Safri sebesar Rp 5 miliar yang dapat diberikan secara bertahap sesuai dengan kemampuan perusahaan. Selanjutnya Agus dan Ardy melaporkan kepada Suharjito, di mana Suharjito menyanggupinya," jelas jaksa.

Lalu, pada 16 Juni, Suharjito menyerahkan uang sejumlah USD 77 ribu atau jika dikonversikan ke rupiah sekitar Rp 1 miliar. Uang itu diserahkan ke Safri kemudian diserahkan ke Edhy melalui Amiril Mukminin.

"Dalam pertemuan itu, Suharjito kemudian menyerahkan uang kepada Safri sejumlah USD 77 ribu sambil mengatakan 'ini titipan buat Menteri'. Selanjutnya Safri menyerahkan uang tersebut kepada Terdakwa melalui Amiril Mukminin," tambah jaksa.

Penerimaan Suap Rp 24 Miliar

Lebih lanjut, jaksa juga mengungkapkan soal strategi Edhy Prabowo mendapat uang dari perusahaan kargo dengan cara meminjam bendera PT ACK agar bisa digunakannya untuk menjadi perusahaan kargo pengirim benur yang diekspor dari KKP. Jaksa mengatakan Edhy memasukkan beberapa nama di struktur PT ACK di mana nama-nama ini adalah representasinya.

Mereka yang dimasukkan ke struktur PT ACK adalah teman dekat Edhy bernama Nursan Amri. Nursan di PT ACK ditempatkan di posisi komisaris dengan saham 41,65 persen dan Amri selaku Dirut dengan saham 40,65 persen.

"Padahal senyatanya Nursan dan Amri hanya dipinjam namanya sebagai pengurus perusahaan (nominee) serta tidak memiliki saham di PT ACK," ungkap jaksa.

Tapi peran Nursan tidak berlangsung lama karena meninggal. Nama Nursan kemudian digantikan Achmad Bahtiar.

Selanjutnya bank garansi dan peran Antam Novambar >>>

Simak Video: Terungkap Peran Antam Novambar dalam Dakwaan Edhy Prabowo

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2