Hina Komjen Paulus Waterpauw, Pria di Jayapura Diciduk

Audrey Santoso - detikNews
Kamis, 15 Apr 2021 23:04 WIB
Barang bukti kasus pria di Jayapura hina Komjen Paulus Waterpauw
Barang bukti kasus pria di Jayapura hina Komjen Paulus Waterpauw (Dok. Satgas Nemangkawi)
Jakarta -

Pemilik akun Facebook (FB) Bunaibo Keiya, EK (36), ditangkap oleh polisi lantaran mem-posting foto Kepala Badan Intelijen Keamanan (Kabaintelkam) Polri, Komjen Paulus Waterpauw, disertai kalimat 'Orang Ini lebih baik cincang dengan kampak boleh'. Dia juga mem-posting kalimat 'Teroris sejatinya kelompok yang membunuh warga sipil, kenyataannya warga sipil papua biasa ditembak mati itu oleh TNI POLRI, TNI-POLRI yang TERORIS'.

"Pelaku membuat posting-an di media sosial Facebook yang diduga berisi muatan ujaran kebencian terhadap SARA dengan menggunakan handphone miliknya agar orang lain bisa melihat dan membaca ungkapan rasa kebenciannya," ujar Kasatgas Humas Operasi Nemangkawi Kombes M Iqbal Alqudusy dalam keterangan tertulis, Kamis (15/4/2021).

EK ditangkap pada Senin (12/4) sekitar pukul 14.30 WIT di Jayapura, Papua oleh Satgas Nemangkawi. Dasar penangkapan EK, kata Iqbal, adalah laporan polisi nomor LP/118/IV/2021/Papua/Res. Jayapura pada 5 April 2021.

Polisi menilai EK diduga menyiarkan kalimat itu di media sosial untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu, dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan. Kalimat kebencian terhadap Paulus Waterpauw diunggah pada 15 November 2020 dan kalimat kebencian kepada TNI-Polri diunggah 27 Maret 2021.

"Juga ada beberapa lagi posting-an pelaku yang diduga berisi ujaran kebencian yang dapat menimbulkan terjadinya perpecahan antar individu maupun kelompok masyarakat," tuturnya.

Polisi menjerat EK dengan Pasal 45A ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. EK terancam hukuman penjara maksimal 6 tahun dan, atau denda maksimal Rp 1 miliar.

"Penyidikannya oleh Polres Jayapura. Pro justicia menyesuaikan locus delicti," ucap Iqbal.

(aud/imk)