KPK Limpahkan Berkas Kasus Bansos Corona Eks Mensos Juliari dkk ke PN Tipikor

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Rabu, 14 Apr 2021 15:28 WIB
Mantan Menteri Sosial (Mensos) Juliari Peter Batubara mendatangi KPK. Juliari akan menjalani pemeriksaan perdana kasus dugaan suap bantuan sosial (bansos) Corona.
Eks Mensos, Juliari Batubara (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

KPK melimpahkan berkas perkara dugaan kasus suap bansos COVID-19 yang menyangkut para terdakwa eks Menteri Sosial (Mensos) Juliari Peter Batubara beserta dua PPK (pejabat pembuat komitmen) Kemensos, Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono, ke PN Tipikor, Jakarta Pusat. Mereka akan segera disidang.

"Rabu (14/4) Jaksa KPK Ikhsan Fernandi Z melimpahkan berkas perkara para terdakwa, yaitu Juliari P Batubara, Matheus Joko Santoso, dan Adi Wahyono ke PN Tipikor Jakarta Pusat," kata juru bicara KPK, Ali Fikri, kepada wartawan, Rabu (14/4/2021).

"Penahanan para terdakwa tersebut sepenuhnya telah beralih dan menjadi kewenangan PN Tipikor," imbuh Ali.

Ali menyebutkan, pada sidang nanti, pihaknya masih menunggu siapa majelis hakim yang akan memimpin. Juga masih menunggu jadwal sidang dalam agenda pembacaan surat dakwaan oleh tim JPU (jaksa penuntut umum).

"Selanjutnya, menunggu penetapan penunjukan majelis hakim dan penetapan hari sidang perdana dengan agenda pembacaan surat dakwaan oleh tim JPU," ujar Ali.

Para terdakwa didakwa dengan dakwaan, sebagai berikut:

Juliari P Batubara dan Adi Wahyono, kesatu, Pasal 12 huruf (b) Jo Pasal 18 UU Tipikor Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP atau kedua, Pasal 11 Jo Pasal 18 UU Tipikor Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Matheus Joko Santoso, kesatu, Pasal 12 huruf (b) Jo Pasal 18 UU Tipikor Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP atau kesatu, Pasal 11 Jo Pasal 18 UU Tipikor Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP dan kedua, Pasal 12 huruf (i) UU Tipikor Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

"KPK mengajak masyarakat ikut mengawal persidangan yang terbuka untuk umum ini. Mengenai jadwal persidangan akan kami informasikan lebih lanjut," katanya.

Dalam kasus ini, KPK menjerat lima orang sebagai tersangka. Mereka adalah Juliari Batubara, Matheus Joko Santoso, Adi Wahyono, Ardian IM, dan Harry Sidabukke.

Matheus dan Adi adalah pejabat pembuat komitmen atau PPK di Kemensos. Sedangkan Harry dan Ardian adalah pihak swasta sebagai vendor dari pengadaan bansos. Tersangka Harry Sidabukke dan Ardian IM sudah menjalani sidang di Pengadilan Tipikor.

KPK menduga Juliari menerima jatah Rp 10 ribu dari setiap paket sembako senilai Rp 300 ribu per paket. Total setidaknya KPK menduga Juliari Batubara sudah menerima Rp 8,2 miliar dan Rp 8,8 miliar.

KPK Juga Limpahkan Berkas Perkara Eks Pejabat Kemenag ke PN Tipikor

KPK juga melimpahkan berkas perkara eks pejabat di Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Undang Sumantri, ke PN Tipikor, Jakarta Pusat. Undang merupakan tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan pada Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).

"Rabu (14/4) Jaksa KPK Wahyu Dwi Oktafianto melimpahkan berkas perkara Terdakwa, Undang Sumantri ke PN Tipikor Jakarta Pusat," kata Ali Fikri.

Ali mengatakan Undang bakal didakwa dengan Pasal 2 UU Tipikor Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP atau Pasal 3 UU Tipikor Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

KPK sebelumnya mengembangkan kasus dugaan korupsi pengadaan pada MTs dan MA dengan menetapkan Undang Sumantri sebagai tersangka. KPK menduga total kerugian negara mencapai Rp 16 miliar.

"Dalam penyidikan tersebut, KPK menetapkan USM (Undang Sumantri), Pejabat Pembuat Komitmen atau PPK di lingkungan Ditjen Pendis Kemenag sebagai tersangka," ujar Laode M Syarif, yang kala itu masih menjabat Wakil Ketua KPK, Senin (16/12/2019).

KPK menduga Undang terlibat dalam dua kasus, yaitu korupsi pengadaan peralatan laboratorium komputer untuk MTs serta pengadaan pengembangan Sistem Komunikasi dan Media Pembelajaran Terintegrasi untuk Jenjang MTs dan MA pada Ditjen Pendis Kemenag pada 2011.

(maa/maa)