Apakah Sah Puasa Tanpa Sahur dan Niat? Simak Pandangan Empat Madzhab

Trisna Wulandari - detikNews
Selasa, 13 Apr 2021 13:55 WIB
one day one hadits niat puasa
Apakah Sah Puasa Tanpa Sahur dan Niat? Simak Pandangan Empat Madzhab (Foto: Mindra Purnomo/detikcom)
Jakarta -

Puasa Ramadhan 2021 dimulai, ada yang masih tidak terbiasa bangun untuk sahur dan terkadang lupa niat berpuasa. Sebetulnya, apakah sah puasa tanpa sahur dan niat puasa?

Dikutip dari Fikih Empat Madzhab Jilid 2 oleh Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi puasa Ramadhan termasuk puasa fardhu, baik secara ada'an atau diqadha, di samping puasa kafarat dan puasa nadzar.

Puasa fardhu menurut madzhab Hanafi dan Hambali hanya memiliki satu rukun saja, yaitu menahan diri dari segala hal yang membatalkan. Sementara niat dan orang yang berpuasa merupakan syarat sahnya puasa, bila tidak ada, maka tidak sah. Meskipun bukan rukun, tetapi keduanya tetap harus ada.

Sementara dalam madzhab Maliki ada dua pendapat yang berbeda, sebagian berpendapat bahwa puasa itu ada dua rukun, yaitu menahan diri, dan niat. Oleh karena itu puasa tidak akan tercapai kecuali dengan memenuhi kedua rukun tersebut.

Sedangkan pendapat yang diunggulkan dalam madzhab Maliki adalah pendapat yang kedua, yaitu bahwa niat bukanlah termasuk rukun puasa, melainkan syarat sahnya. Oleh karena itu, puasa dapat tercapai maknanya dengan hanya menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya saja.

Adapun menurut madzhab Asy-Syafi'i, rukun puasa itu ada tiga. Pertama, menahan diri dari hal-hal yang membatalkan. Kedua, niat. Ketiga, orang yang berpuasa. Oleh karena itu menurut madzhab ini puasa tidak akan tercapai maknanya kecuali tiga rukun ini terpenuhi.

Menurut madzhab Asy-Syafi'i, niat tidak termasuk syarat sah berpuasa fardhu, karena sudah termasuk dalam rukun puasa, bukan sekadar syarat sah atau syarat wajib saja.

Sementara bersantap sahur adalah hal yang dianjurkan ketika beribadah puasa, meskipun hanya sedikit, walau hanya segelas air.

Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi dalam Fikih Empat Madzhab Jilid 2 mengutip hadits riwayat Al-Bukhari tentang keberkahan pada makan sahur meskipun tidak diwajibkan, Nabi SAW bersabda,

"Bersahurlah kalian, karena di dalam sahur itu terdapat barokah."

Dikutip dari Fikih Ibadah Madzhab Syafi'i oleh Syaikh Dr. Alauddin Za'tari, berdasarkan hadits Ibnu Abbas, dari Nabi SAW, beliau bersabda,

"Minta tolonglah kamu dengan makan sahur untuk puasa di siang hari, dan dengan tidur siang untuk menjalankan shalat malam."

Adapun waktu sahur adalah setelah tengah malam, namun semakin mendekati waktu imsak maka semakin afdhal, selama tidak di waktu yang diragukan dengan waktu imsak dengan pedoman sabda Nabi yang diriwayatkan At-Tirmidzi, dikutip dari Fikih Empat Madzhab Jilid 2:

"Tinggalkanlah sesuatu yang membuatmu ragu dan pilihlah sesuatu yang tidak membuatmu ragu."

Apakah sah puasa tanpa sahur dan niat? Berikut selengkapnya menurut empat madzhab:

1. Niat puasa menurut madzhab Asy-Syafi'i

Menurut madzhab Asy-Syafi'i, niat merupakan rukun puasa, bukan sekadar syarat sah atau syarat wajib saja. Sementara sahur tidak masuk rukun dan syarat sah puasa.

Niat puasa menurut madzhab Asy-Syafi'i harus selalu diperbaharui pada setiap hari puasa. Dan harus juga diinapkan, yakni dilakukan di malam hari sebelum tiba waktu fajar, meskipun sedari waktu maghrib, dan meskipun di malam tersebut ia melakukan sesuatu yang dapat membatalkan puasa karena puasa hanya dihitung saat siang hari saja.

Menurut madzhab Asy-Syafi'i, niat puasa itu ditanamkan di dalam hati dengan mengucapkan, "Saya berniat untuk berpuasa Ramadhan esok hari.." atau "Saya berniat untuk berpuasa nadzar esok hari.."

Sementara niat pada puasa sunnah menurut madzhab Asy-Syafi'i boleh dilakukan kapan saja, bahkan ketika hari sudah siang sekalipun, dengan syarat sebelum matahari tergelincir yakni sebelum waktu zuhur, dan dengan syarat belum melakukan sesuatu yang dapat membatalkan puasa, misalnya sudah makan atau minum sesuatu.

Selain ditanamkan di dalam hati, niat juga harus dilafalkan secara lisan karena pelafalan dengan lisan dapat membantu dan mempertegas niat tersebut, misalnya dengan melafalkan, "Saya berniat untuk berpuasa Ramadhan esok hari di bulan Ramadhan karena Allah subhanahu wa ta'ala."

Menurut madzhab Asy-Syafi'i, niat puasa juga tidak dapat terwakilkan dengan hanya memakan sesuatu di waktu sahur saja, pada puasa apapun, kecuali jika saat makan itu terbetik di dalam pikirannya akan berpuasa di esok hari dan meniatkannya dengan niat puasa.

Begitu juga jika waktunya sudah sangat mendesak dan hampir mendekati waktu menyingsingnya fajar, yakni waktu imsak atau waktu subuh, sedangkan ia belum makan sahur, makan dengan sahurnya itu sudah dianggap sebagai niat berpuasa.

2. Niat puasa menurut madzhab Hanafi

Menurut madzhab Hanafi, niat puasa Ramadhan adalah syarat sah puasa, di samping suci dari haid dan nifas. Sementara, sahur tidak masuk syarat sah puasa.

Karena itu, menurut madzhab Hanafi, tidak sah hukumnya puasa yang dilakukan tanpa berniat terlebih dahulu, sebab untuk membeddetikakan antara puasa yang masuk dalam wilayah ibadah dengan puasa yang hanya menjadi kebiasaan atau semacamnya, misalnya untuk diet atau pengobatan.

Niat puasa menurut madzhab Hanafi sudah dianggap cukup apabila seseorang sudah menanamkan di dalam hati bahwa ia akan berpuasa Ramadhan, misalnya. Namun disunnahkan baginya untuk melafalkan niat tersebut.

Sedangkan waktu berniat dapat dilakukan kapan saja sejak matahari telah terbenam hingga tengah hari di keesokan harinya. Waktu siang menurut syariat adalah sejak tersebar cahaya di ufuk timur ketika fajar menyingsing hingga matahari terbenam.

Karena itu, jika waktu waktu tersebut dibagi menjadi dua, maka waktu terakhir untuk berniat adalah saat matahari hendak tergelincir, sekitar pukul 11.00 siang.

Apa bila seseorang tidak menginapkan niatnya pada malam harinya, menurut madzhab Hanafi, maka ia boleh berniat hingga waktu tersebut.

Menurut madzhab Hanafi, niat puasa Ramadhan harus terus dilakukan setiap hari, namun niat tersebut sudah terwakilkan apabila seseorang melakukan makan sahur, kecuali jika orang itu saat makan pada waktu sahur berniat bukan untuk berpuasa.

Apabila seseorang telah berniat pada awal malam, misalnya setelah salat Isya, lalu ia membatalkan niatnya sebelum tiba waktu subuh, maka pembatalan itu dianggap sah menurut madzhab Hanafi, untuk puasa apapun.

Menurut madzhab Hanafi, diperbolehkan berniat puasa saja tanpa menyebutkan jenis puasanya. Namun, lebih afdhal jika niat tersebut mencakup jenis puasa yang dilakukan dan menginapkannya di malam hari.

3. Niat puasa menurut madzhab Maliki

Menurut pendapat yang diunggulkan dalam madzhab Maliki, niat bukanlah termasuk rukun puasa, melainkan masuk syarat sahnya. Dengan kata lain, menurut madzhab Maliki, tidak sah puasa tanpa berniat, baik itu puasa wajib maupun puasa sunnah. Sementara sahur tidak masuk syarat sah puasa.

Niat yang dimaksud dalam madzhab Maliki adalah niat untuk berpuasa, sementara niat untuk mendekatkan diri kepada Allah hanyalah niat yang dianjurkan.

Di dalam berniat menurut madzhab Maliki juga diwajibkan untuk menentukan puasa yang akan dilakukan. Apabila seseorang telah meniatkan puasa secara khusus, setelah itu dia ragu apakah saat itu ia berniat melakukan puasa sunnah atau puasa nadzar, atau puasa qadha, maka puasa tersebut dianggap puasa sunnah saja.

Waktu untuk berniat puasa menurut madzhab Maliki terbentang sejak terbenamnya matahari hingga fajar menyingsing. Apabila seseorang berniat di bagian akhir sekali, seperti satu detik sebelum waktu subuh, niatnya masih dianggap sah.

Namun sebaiknya niat berpuasa dilakukan lebih awal agar lebih aman dari ketergesaan, sebab makan, minum, tidur, dan berhubungan intim setelah berniat puasa tidak memengaruhi niat tersebut.

Lain halnya bila terjadi hilang akal karena jatuh pingsan atau menjadi tidak waras setelah berniat, makan niat puasa itu menjadi tidak sah dan harus diperbaharui lagi jika masih dalam waktunya.

Sementara jika niat puasa dilakukan pada siang hari, menurut madzhab Maliki, makan niat itu tidak sah, untuk puasa apapun, meskipun puasa sunnah.

Menurut mahdzab Maliki, niat berpuasa cukup dilakukan satu kali jika waktu berpuasanya dilakukan setiap hari seperti puasa Ramadhan atau puasa kafarah, selama puassaanya terus berkesinambungan.

Jika puasa terputus, misalnya karena sakit atau bepergian atau semacamnya, makan niat berpuasa harus diinapkan pada setiap malamnya selama masih dalam kondisi seperti itu. Setelah pulih sama sekali atau tidak bepergian lagi, maka satu kali niat sudah cukup untuk puasa-puasa selanjutnya.

Bila puasa Ramadhan diqadha, atau untuk berpuasa yang tidak dilakukan setiap hari, menurut madzhab Maliki, niat puasa harus dilakukan setiap malam, tidak cukup hanya diniatkan satu kali pada malam pertama saja.

Menurut madzhab Maliki, niat puasa juga cukup terwakilkan dengan niat secara hukum, yaitu dengan makan sahur, meskipun tidak terlintas sama sekali niat berpuasa di benaknya ketika makan sahur, karena tentu saja dapat dipastikan apabila seseorang sudah memakan sahur makan berarti berniat untuk berpuasa.

Apabila seseorang bertanya untuk apa makan pada jam seperti itu (jam sahur), lalu dijawab "aku sedang bersahur untuk melakukan puasa di esok hari," itu sudah cukup sebagai niat puasa.

4. Niat puasa menurut madzhab Hambali

Menurut madzhab Hambali, niat puasa adalah syarat sah puasa, di samping bersih dari darah haid dan nifas. Sahur tidak masuk syarat sah puasa.

Waktu berniat puasa boleh dilakukan kapan saja sejak terbenamnya matahari hingga fajar menyingsing untuk puasa wajib, sementara untuk puasa sunnah maka niatnya boleh dilakukan meskipun sudah lewat tengah hari, asalkan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan atau minum sebelum dia berniat.

Dalam berniat puasa, menurut madzhab Hambali, harus tentukan puasa yang akan dilakukan, misalnya hendak puasa Ramadhan atau puasa lainnya, namun tidak harus menyertakan kefardhuannya.

Niat puasa juga harus dilakukan setiap kali hendak berpuasa setiap harinya, baik puasa Ramadhan atau puasa yang lain.

Bagaimana detikers, sudah paham lebih jauh ya apakah sah puasa tanpa sahur dan niat puasa. Jangan lupa niat puasa dan sahur, selamat berpuasa!

Simak Video "Kunci Puasa Lancar, Ahli Gizi: Penting Makan Sahur":

[Gambas:Video 20detik]



(erd/erd)