Survei Tokoh Nonparpol KedaiKOPI: Elektabilitas Susi Pudjiastuti Paling Top!

Tim Detikcom - detikNews
Senin, 12 Apr 2021 17:52 WIB
Susi Pudjiastuti
Susi Pudjiastuti (Foto: Foto: Agung Pambudhhy/Detik)
Jakarta -

Lembaga survei KedaiKOPI merilis survei terkait tokoh calon pemimpin Indonesia 2024 dari beragam kateogri di Indonesia, salah satunya kategori tokoh nonparpol. Hasilnya Susi Pudjiastuti memperoleh elektabilitas 30,9 persen.

Survei tersebut dilakukan secara nasional 34 provinsi pada tanggal 29 Maret hingga 4 April 2021, metode survei melalui wawancara telepon. Jumlah responden terdapat 1.260.

KedaiKOPI menanyai dengan pertanyaan, "dari nama-nama tokoh nonparpol dan non pemerintahan berikut ini, siapa yang menurut Anda layak menjadi calon presiden di 2024?". Hasilnya Susi Pudjiastuti memperoleh elektabilitas 30,9 persen.

Elektabilitas tokoh nonparpol:

1. Susi Pudjiastuti 30,9 persen
2. Gatot Nurmantyo 14,1 persen
3. Abraham Samad 14,0 persen
4. Rizal Ramli 11,9 persen
5. Jusuf Kalla 10,6 persen
6. Sudirman Said 8,0 persen
7. Ustad Abdul Somad 3,4 persen
8. TGB Muhammad Zainul Majdi 3,3 persen
9. Aa Gym 2,3 persen
10. Tidak ada 1,5 persen

"Di tokoh non parpol ada nama Susi Pudjiastuti, ada nama Sudirman Said, dua nama yang sebetulnya cukup harum pada periode pertama yang saat ini tidak ada di kabinet Pak Jokowi tapi namanya masih menggeliat terus," kata Pendiri lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) Hendri Satrio atau Hensat, dalam acara Peluncuran Hasil Survei Calon Pemimpin 2024 : Banjir Tokoh Menuju 2024, yang disiarkan di YouTube Survei KedaiKOPI, Senin (12/4/2021).

"Sudirman Said misalnya terkenal dengan membuka tabir Papa Minta Saham misalnya ternyata masih dianggap sebagai tokoh antikorupsi karena dianggap berani melawan mafia misalnya," ujar Hensat.

Kemudian dari kategori lainnya hasil survei KedaiKOPI juga berbeda, misalnya survei capres 2024 berdasarkan kategori tokoh oposisi, Rocky Gerung memperoleh elektabilitas tertinggi 13,7 persen. Dengan demikian ia menyebut nama calon presiden tidak terbatas hanya satu dua nama saja, melainkan ada banyak pilihan.

"Dari hasil yang muncul saat ini, saya amaze juga bahkan kendati ada nama Rocky Gerung di sana, ada nama Gatot Nurmantyo, itu benar benar membuat pemilihan presiden di kita ini menarik. Jadi jangan lagi kita beranggapan nama-nama calon presiden hanya sebatas 10 orang 20 orang, banyak sekali beredar," kata Hensat.

KedaiKOPI juga menanyai responden dengan pertanyaan, "dari tokoh antikorupsi berikut ini, siapa yang menurut Anda layak menjadi calon presiden di 2024?". Hasilnya Novel Baswedan memperoleh elektabilitas terbanyak 27,1 persen.

1. Novel Baswedan 27,1 persen
2. Bambang Widjodjanto 11,3 persen
3. Febri Diansyah 9,4 persen
4. Sudirman Said 9,0 persen
5. Firli Bahuri 8,8 persen
6. Busyro Muqoddas 8,1 persen
7. Agus Rahardjo 6,7 persen
8. Bivitri Susanti 6,3 persen
9. Abraham Samad 5,5 persen

Lebih lanjut, KedaiKOPI juga melakukan survei terkait elektabilitas tokoh ekonom. Responden ditanyai dengan pertanyaan, "dari tokoh ekonom berikut ini, siapa yang menurut Anda mampu menyelesaikan permasalahan ekonomi Indonesia dan berpotensi terpilih menjadi presiden di 2024?". Hasilnya Gita Wirjawan memperoleh elektabilitas 18,3 persen.

1. Gita Wiryawan 18,3 persen
2. Muhammad Chatib Basri 18,2 persen
3. Rizal Ramli 17,1 persen
4. Perry Warjiyo 8,0 persen
5. Rhenald Khasali 7,8 persen

Sementara itu, Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI kunto Adi Wibowo mengatakan soal perbedaan hasil survei. Pertama ketika survei elektabilitas terbuka orang biasanya mengacu pada popularitas capres, sedangkan ketika sudah di framing di beberapa kategori terjadi perbedaan pertanyaan sehingga dipersepsikan bisa berbeda oleh responden.

"Satu kategori tokoh parpol mereka merefer ke parpol-parpol besar misalnya Golkar tetap kena ke pikiran orang dan akhirnya mikirnya ke Pak Airlangga. Yang nomor 2 pertanyanya beda yang pertama elektabilitas kita tanya yang menurut Anda layak, sedangkan di per kategori kita menanyakan tokoh yang potensial. Jadi memang ada perbedaan wording sehingga dipersepsi atau diartikan berbeda sehingga jawabannya berbeda," ujar Kunto.

(yld/tor)