Cerita Kepsek Selamat dari Serbuan Peluru KKB di Puncak Papua

Audrey Santoso - detikNews
Sabtu, 10 Apr 2021 22:25 WIB
Junaedi Arung Sulele, Kepala Sekolah SMPN 1 Beoga, Kabupaten Puncak, Papua selamat dari serbuan peluru tajam oleh KKB.
Junaedi Arung Sulele, Kepala Sekolah SMPN 1 Beoga, Kabupaten Puncak, Papua selamat dari serbuan peluru tajam oleh KKB. (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -

Junaedi Arung Sulele, Kepala Sekolah SMPN 1 Beoga, Kabupaten Puncak, Papua bersyukur dirinya selamat dari serbuan peluru tajam kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kabupaten Puncak, Papua. Junaedi adalah korban selamat sekaligus satu-satunya saksi mata kasus penembakan Yonatan Renden (27), guru yang tewas ditembak KKB.

"Puji Tuhan saya masih lolos," ungkapnya di sela pemakaman Yonatan, dikutip dari keterangan tertulis Satgas Nemangkawi, Sabtu (10/4/2021).

Junaedi mengaku tak melihat satupun orang saat penembakan. Dia bersama Yonatan lari, namun ke arah berlawanan saat dihujani peluru tajam dari senjata api KKB.

"Saat penembakan saya tidak lihat orang. Ketika bunyi tembakan, saya lari ke arah kanan, Yonatan Renden ke kiri. Korban sudah kena dua kali tembakan di dada tapi masih sempat lari, kemudian rubuh," cerita Junaedi.

Dia menuturkan saat penembakan oleh KKB, dirinya bersembunyi di rumah warga. Dia baru berani keluar dari persembunyiannya ketika personel TNI-Polri yang mengevakuasi jenazah Yonatan lewat.

Junaedi menyebut ada 11 orang guru pendatang di Kabupaten Puncak, Papua. Kini sebagian dari mereka mengungsi ke Koramil setempat.

"Total ada 11 orang guru pendatang, sebagian mengungsi di Koramil." tutur Junaedi.

Junaedi mengatakan guru SD setempat yang juga tewas ditembak KKB dua hari lalu, yaitu Oktovianus Rayo merupakan guru kontrak yang sudah 10 tahun mengajar anak-anak di Kabupaten Puncak. Sementara itu Yonatan baru dua tahun mengajar di sana.

"Kedua korban ini sudah berkeluarga. Oktavianus bersama keluarganya tinggal di Beoga, sedangkan keluarga Yonatan di tanah kelahirannya, Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel)," terang Junaedi.

"Mereka guru terbaik. Mereka dari masyarakat sipil, tidak ada hubungannya dengan TNI-Polri. Tidak banyak orang yang mau bertahan hidup di pedalaman, hidup bersama keluarga bertahan di sana di hutan," sambung dia.

Junaedi mengungkapkan kedua guru yang tewas selama ini mendidik anak-anak di pedalaman dengan tulus. Junaedi yang juga pendatang asal Toraja berharap TNI-Polri terus menjaga masyarakat di Puncak, Papua.

"Kami mohon aparat menjaga masyarakat tanpa terkecuali, apalagi guru yang mendidik anak Papua, kami sangat sesalkan kejadian ini," ungkap Junaedi.

Simak cerita selengkapnya

Selanjutnya
Halaman
1 2