Wakil Ketua MPR: Kampus Harus Jadi Garda Terdepan Tangkal Radikalisme

Abu Ubaidillah - detikNews
Kamis, 08 Apr 2021 15:45 WIB
Kuliah Umum: Menangkal Radikalisme di Perguruan Tinggi di Kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Surabaya.
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid mengatakan radikalisme sering dimulai dari pemikiran yang selalu merasa benar sendiri dan pihak lain selalu salah. Menurutnya, inilah yang disebut sebagai kelompok ekstremis.

Dia menuturkan radikalisme yang berlanjut dengan tindakan bisa dikatakan sebagai terorisme. Oleh karena itu, kampus yang merupakan tempat bagi kelompok kritis harus menjadi garda terdepan dalam menangkal paham radikalisme.

"Kritisisme di kampus harus diarahkan pada kebaikan, bukan diarahkan kebencian pada negara, pemimpin dan kelompok tertentu. Karena itu, perguruan tinggi (kampus) harus menjadi garda terdepan menangkal radikalisme," ujar Jazilul dalam keterangannya, Kamis (8/4/2021). Pernyataan ini disampaikannya pada Kuliah Umum: Menangkal Radikalisme di Perguruan Tinggi di Kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Surabaya.

Dia mengatakan kelompok radikalis biasanya selalu merasa benar sendiri dan sering menilai kelompok lain salah, terutama negara dan pemimpin pada posisi yang selalu tidak adil. Interupsi atas ketidakadilan seringkali hadir dari lingkungan kampus.

"Pada era Reformasi, Soeharto dianggap tidak adil. Aktivis mahasiswa kala itu menuntut penghapusan KKN. Tetapi ini pada konteks kritisisme," tutur dia.

Maka dari itu, ia berharap agar kampus memberikan perhatian pada potensi munculnya paham-paham radikal yang memang sering diawali dari pemikiran yang kritis namun tidak terarah dengan baik. Sebab, sikap kritis di kampus memang sudah menjadi keharusan, namun kritis yang diarahkan pada kebaikan bukan pada kebencian terhadap negara, pemimpin, atau kelompok tertentu.

Ia pun mengaku miris karena belakangan muncul tren mereka yang terpapar paham radikalisme justru dari kelompok perempuan. Contohnya seperti kasus bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makassar belum lama ini.

"Ini lebih berat lagi. Karena saya orang politik, mana yang lebih fanatik pemilih perempuan atau laki-laki? Jawabannya perempuan. Kalau paham radikalisme ini masuk di kalangan perempuan, lebih bahaya lagi," katanya.

Oleh karena itu, ia berharap Unesa bisa menjadi contoh kampus yang membuat program khusus bagi anak didik yang memiliki kompetensi, namun aman dari pemikiran radikal dan tindakan yang mengarah pada terorisme. Menurutnya sebenarnya pikiran radikal itu selalu ada setiap zaman, bahkan sejak zaman nabi akar radikalisme itu ada kemiripan, yakni yang keras dan selalu merasa benar sendiri.

"Pikiran radikal dengan selalu menyalahkan yang lain bisa jadi ekstremis. Kalau dengan tindakan itu menjadi teroris. Akar musabab radikalisme adalah merasa superioritas, lebih pintar, lebih hebat dari yang lain. Ini disebut takfiri, mengkafirkan, merendahkan yang lain. Mereka yang di luar kelompoknya itu salah," katanya.

Sementara itu, Rektor Unesa Nurhasan menyebut jumlah penduduk Indonesia saat ini berdasarkan data dari Dirjen Dukcapil Kemendagri mencapai 268,5 juta. Jumlah pengguna telepon seluler jauh lebih banyak, mencapai sekitar 338,2 juta unit. Menurutnya jumlah hp melebihi jumlah manusianya karena setiap orang bisa memiliki lebih dari satu hp.

Ia juga mengungkapkan hasil survei yang dilakukan Nenilai, lembaga nonpemerintah yang kredibel melakukan survei terhadap mahasiswa baru 2020 dengan jumla sampel 30 ribuan dan 4 ribu di antaranya adalah mahasiswa baru Unesa.

"Hasil survei menunjukkan bahwa nilai-nilai keadilan adalah yang paling tinggi sebanyak 70 persen. Berdasarkan survei tersebut, jika kita ambil penilaian negatif dari anak-anak muda, mereka akan mengatakan, 'saat ini saya hidup di negara yang masih jauh dari keadilan dan kemakmuran. Masih ada korupsi, birokrasi yang berbelit dan ekonomi yang dikuasai segelintir elite'," tutur Hasan.

Namun, menurutnya ada hal positif yang akan mereka katakan, mereka mengakui hidup di negara yang masih mempertahankan nilai-nilai gotong royong, berpegang teguh pada ajaran agama, dan harapan ke depan keadilan bisa dirasakan.

"Apa yang ingin saya sampaikan? Ternyata keadilan adalah idaman anak-anak muda kita, dan berpegang pada ajaran agama adalah nilai-nilai yang dianggap penting. Implikasinya adalah, ketika isu keadilan digulirkan maka gelora anak muda akan bergejolak, cepat bereaksi dan berpikir pendek (berdasarkan survey ada 29% anak muda berpikir pendek)," lanjutnya.

Demikian juga dengan isu agama, menurutnya ada dua sisi mata pisau, bisa menjadi baik atau malah justru menjadi fundamentalis radikal. Menurutnya di sinilah pentingnya moderasi beragama. Ia mengatakan Unesa saat ini telah memiliki Pusat Pembinaan Ideologi dan Monumen Pancasila.

"Pada tahun ini, kami juga telah merancang program Pengabdian Kepada Masyarakat yang salah satunya diorientasikan untuk merintis Desa Pancasila," pungkasnya

(akd/ega)