Round-Up

Anggapan Keramat Salah Alamat di Tanah Kuburan yang Meninggi

Tim detikcom - detikNews
Senin, 05 Apr 2021 22:46 WIB

"Sejak awal kita sudah mengingatkan dan sudah melarang orang-orang berbuat seperti itu. Tapi yang namanya pengunjung, itu susah juga diawasi," kata Anuar.

Terkait fenomena kuburan menggelembung ini, penghulu suku Panyalai Sungai Asam, Ali Bujang Datuak Rangkayo Gadang, mengatakan naiknya tanah kuburan setinggi 1,5 meter di Padang Pariaman terjadi sejak 7 bulan lalu. Dia menilai tanah kuburan itu terus meninggi dari hari ke hari hingga seperti sekarang.

"Kalau ditanya kepada kemenakan (keponakan) makam ini meninggi sudah mulai sejak 7 bulan yang lalu. Tapi belum setinggi ini," kata Ali di lokasi kuburan, Rabu (31/3).

Meski sudah mengetahui kuburan meninggi, pihak suku Panyalai belum mengetahui siapa sosok yang dimakamkan di sana sehingga pihak keluarga dari jenazah yang dimakamkan di lokasi itu juga belum diketahui.

Warga mulai keramatkan kuburan yang taahnya meninggi di Sumatera BaratSejumlah uang bertebaran di lokasi kuburan yang tanahnya meninggi (Jeka Kampai/detikcom)

Ahli geologi Ade Edwar bicara beberapa kemungkinan yang menyebabkan tanah kuburan tersebut meninggi. Dia mengatakan fenomena 'tanah tumbuh' yang tiba-tiba meninggi itu bukan pertama kali terjadi.

"Sepanjang patahan Sumatera, banyak 'tanah tumbuh' ini, namanya diapir. Diapir adalah penerobosan (intrusi) batuan karena perbedaan tekanan dan buoyancy. Penerobosan biasanya vertikal melibatkan batuan berdensitas rendah yang relatif mobile menerobos batuan berdensitas lebih tinggi, biasanya melalui rekahan (fracture). Diapir ini bisa di mana saja terjadi," kata Ade kepada detikcom, Jumat (26/3).

Sementara itu, ahli geofisika dari Universitas Andalas (Unand), Padang, Badrul Mustafa memaparkan sejumlah kemungkinan penyebab meningginya tanah kuburan tersebut. Namun hal pertama yang harus dipastikan, katanya, ialah sifat alami peristiwa tersebut.

Selanjutnya, kata Badrul, harus dilakukan penyelidikan secara geologi dengan cara digali satu lubang untuk menyelidiki jenis kandungan tanah tersebut.

"Bisa saja ada kemungkinan gas, karena massanya rapat, sementara bumi semakin ke bawah kian berat, tentu yang ringan akan naik ke atas melalui rekahan," ujar Badrul di Padang, Rabu (31/3), seperti dilansir Antara.

Terkait adanya kemungkinan rekahan karena gempa, ia memastikan daerah tersebut tidak dilalui oleh patahan gempa bumi. Selain itu, katanya, dapat dilakukan penyelidikan geofisika lewat metode geolistrik dengan peralatan tanpa melakukan pengeboran. Ia juga meminta masyarakat tidak mengaitkan fenomena ini dengan hal mistis. Sebab, itu bisa dijelaskan dengan penelitian dan ilmu pengetahuan.

Halaman

(jbr/idh)