Alex Noerdin Tak Penuhi Panggilan Kejati Sumsel Terkait Kasus Korupsi Masjid

Prima Syahbana - detikNews
Senin, 05 Apr 2021 19:29 WIB
Alex Noerdin (Raja-detik)
Foto: Alex Noerdin (Raja-detik)
Palembang -

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumatera Selatan (Sumsel) hari ini menjadwalkan pemeriksaan terhadap mantan Gubernur Sumsel periode 2008-2018, Alex Noerdin terkait dugaan kasus korupsi Masjid Sriwijaya Palembang. Namun, Alex berhalangan hadir dalam pemeriksaan hari ini.

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Sumsel, Khaidirman mengatakan Alex diperiksa sebagai saksi. Menurutnya, Alex hari ini berhalangan hadir karena karena ada kegiatan.

"Saksi yang bersangkutan berhalangan hadir memenuhi panggilan untuk diperiksa sebagai saksi karena sedang ada kegiatan," kata Khaidirman kepada wartawan, Senin (5/4/2021).

Khaidirman mengatakan pihaknya akan menjadwalkan ulang pemeriksaan terhadap Alex. Kejati Sulsel berencana memanggil ulang Alex pada Kamis (8/4/2021).

"Kamis depan diagendakan kembali pemeriksaannya oleh Jaksa Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejati Sumsel terhadap beliau," ucapnya.

Menurutnya, pada awal 2021 Kejati Sumsel memulai penyelidikan setelah adanya laporan dugaan kerugian negara. Hingga saat ini, penyidik Kejati Sumsel telah memeriksa 36 saksi atas kasus dugaan korupsi pembangunan tersebut.

"Dari 36 saksi yang sudah diperiksa, sebanyak empat orang diantaranya telah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik beberapa waktu lalu," katanya.

Khaidirman mengatakan para tersangka itu yakni Ketua Umum Panitia Pembangunan Masjid Raya Sriwijaya Eddy Hermanto, Ketua Panitia Divisi Lelang Syarifudin, Project Manager PT Yodya Karya sebagai kontraktor Yudi Arminto. Kemudian ada Kerjasama Operasional (KSO) PT Brantas Abipraya-PT Yodya Karya Dwi Kridayani.

"Penahanan tersebut dilakukan selama 20 hari, kalau untuk tersangka laki-laki ditahan di Rutan kelas 1 Pakjo. Sedangkan tersangka perempuan (Dwi Kridayani) di Lapas Perempuan yang berada di Jalan Merdeka," katanya.

Sebelumnya, penyidikan Kejaksaan Tinggi Sumsel bermula dari mangkraknya pembangunan masjid. Pembangunan Masjid Sriwijaya dilakukan oleh Yayasan Wakaf Sriwijaya dengan menggunakan dana hibah pemerintah Provinsi Sumsel tahun 2016 dan 2017 sebesar Rp 130 miliar.

Namun, bangunan fisik masjid itu diduga tidak sesuai dengan anggaran proyek tersebut.

"Namun dilihat dari fisik bangunan tersebut tidak sesuai dengan dana yang telah keluarkan sehingga pihak Kejati Sumsel melakukan penyelidikan," ungkapnya.

(man/dhn)