Ali Imron Beberkan Beda Aksi Teror Dulu dan Kini

Deden Gunawan, Audrey Santoso - detikNews
Senin, 05 Apr 2021 17:14 WIB
Jakarta -

Ali Imron, pelaku Bom Bali I mengatakan aksi teror dulu dan kini berbeda. Sebagaimana diketahui, Bom Bali I terjadi pada 2002, di Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali yang mengakibatkan 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka dan mayoritas warga negara asing (WNA).

Ali Imron menjelaskan dulu tujuan dia dan kelompoknya melakukan teror bom untuk peringatan, namun kini teror untuk menebarkan ketakutan. Dulupun kelompoknya tak mengajarkan aksi teror yang melibatkan perempuan dan anak, namun sekarang muncul tren aksi teror menggunakan perempuan.

"Aksi-aksi yang terjadi, terutama setelah kami ditangkap sebagai pelaku Bom Bali, itu sebetulnya masih ada kaitannya, baik kaitan secara tujuan ataupun secara model aksinya. Nah yang membedakan adalah, contoh sekarang penyerangan ke gereja, penyerangan ke gereja yang pernah kami lakukan 20 tahun yang lalu. Adalah program senior saya Doktor Hambali, yang sekarang dipenjara di Guantanamo," jelas Ali Imron kepada Blak-blakan detikcom di Polda Metro Jaya, Jumat (2/4/2021) kemarin.

"Hambali itu hanya mengatakan kita akan memberi peringatan ke umat Kristen. Kalau di Ambon Idul Fitri, oknum umat Kristen bisa melakukan penyerangan ke umat Islam, kenapa kita tidak bisa memberikan peringatan jika mereka sedang merayakan Natal? Karena memberi peringatan, maka bom yang kami buat kecil-kecil," sambung Ali Imron.

Ali Imron menyebut dia saat itu menargetkan tiga gereja untuk dibom. Dan masing-masing gereja dipasangi dua bom yang berbentuk kado natal serta tas.

"Jadi kami tugas di Jatim, kami ditempatkan waktu itu di Mojokerto, tiga gereja yang kami sasar. Itu masing-masing gereja dua bom, 1 bom bentuk kado natal 2,5 kg bobotnya, lalu berbentuk tas yang kami taruh di luar (gereja) 5 kg, jadi kecil," tutur Ali Imron.

Dia mengatakan saat itu dirinya sendiri menempatkan bom dalam ruang kosong sekitar gereja. Dia menyebut ada etika jihad yang melarang bom dilakukan di dalam rumah ibadah.

"Dan itu kami sebagai pelaku di lapangan, saya sendiri saya tempatkan di tempat yang kosong dalam gereja, ada etika dalam jihad, kita tidak boleh menyerang tempat ibadah. Nah oleh karena itu begitu kami lakukan, kami lihat jemaatnya mayoritas perempuan dan anak-anak, hati nurani kita menyampaikan mereka ini ndak bisa diserang," ucap Ali Imron.

"Jadi kami tempatkan di tempat yang kosong. Jadi ini semacam peringatan dan tidak ada bom bunuh diri," imbuh Ali Imron.

Simak pemahaman Ali Imron soal etika jihad di halaman selanjutnya.