Ponpes di Sleman Digeledah Densus, NU Bandingkan Kurikulum-Tradisi Ajaran

Muhammad Ilman Nafian - detikNews
Minggu, 04 Apr 2021 07:27 WIB
Jakarta -

Salah satu ruangan Pondok Pesantren (Ponpes) Ibnul Qoyyim Dusun Gandu, Sendangtirto, Berbah, Sleman digeledah Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri pada Jumat lalu. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Marsudi Syuhud menduga pesantren semacam itu memiliki kurikulum yang berbeda dengan yang ada di ponpes NU.

"Jadi beberapa tahun ini muncul pesantren-pesantren baru, itu nama saja kita sudah bisa, nama membau itu sudah mulai kedeteksi gitu. Memang ada pesantren-pesantren pendatang baru yang kayak gitu, yang memang sangat berbeda dari kurikulum maupun cara ajarnya. Coba tanya aja itu umur pesantrennya," ujar Marsudi saat dihubungi, Sabtu (3/4/2021).

Menurutnya, pesantren yang digeledah Densus 88 itu menggunakan nama suatu tokoh. Marsudi mengatakan hal itu berbeda tradisi pesantren NU yang menggunakan nama daerah.

"Itu nama imam, nama tokoh, biasanya mereka kan kayak gitu kalau bikin pesantren, biasanya kalau pesantren itu kan nama kampungnya kalau NU kan. Itu yang modelnya kayak gitu ya gitu modelnya," ucapnya.

Marsudi menyebut pesantren yang berbasis NU memiliki kurikulum yang tidak mengajarkan radikalisme. Marsudi pun menjamin pesantren NU tak ada ajaran radikalisme.

"Begini, kalau pesantren di NU sudah jelas, kurikulumnya jelas, kitabnya jelas, kalau yang NU dan saya menjamin kalau di NU nggak ada," katanya.

Lebih lanjut, Marsudi mengatakan cara yang paling mudah agar pesantren tidak mengajarkan radikalisme pada santrinya yakni menggunakan kurikulum yang ada di ponpes NU. Dia juga menyarankan kitab-kitab yang digunakan juga sama dengan yang ada di pesantren NU.

"Ikutin mestinya kurikulumnya kayak kurikulum NU. Itu saja yang paling gampang, kitab-kitabnya kayak kitab NU," ujarnya.

Sebelumnya, Ketua PBNU, Robikin Emhas, mengungkap upaya deradikalilasi yang diterapkan di ponpes yang berafiliasi dengan NU. Dia mengatakan ponpes di bawah PBNU mengajarkan agar antara agama dan negara diharmonisasi.

Robikin mengatakan dari sekitar 27.800 ponpes, ada 23.000 ponpes yang ada di bawah koordinasi atau berafiliasi dengan NU. Dia mengatakan di tiap ponpes tersebut diajarkan tentang harmonisasi antara negara dan agama.

"NU melalui KH Hasyim Asyari bahkan sebelum NU itu lahir itu berhasil mengharmoniskan hubungan antara agama dengan negara. Agama di satu sisi dengan negara di sisi lain. Tidak diperhadapkan, tidak terus-menerus dipertentangkan, tapi diharmoniskan," kata Robikin dalam diskusi Polemik yang digelar daring, Sabtu (3/4).

Dia mengatakan mencintai negara sebagian dari iman menjadi konsep yang diajarkan di pesantren. Konsep ini pun akhirnya menjadi jargon yang selalu digaungkan NU.

"Jargonnya simpel tapi maknanya dalam, yang sudah sangat populer, hubbul wathan minal iman. Nah kalangan penganut ideologi terorisme ini, penganut ideologi kematian, ini menganggap nasionalisme itu sistem setan. NU tidak. Maka di lingkungan NU diajarkan religius-nasionalis," ujarnya.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2