WNI Diaspora Sebut Anti-Asia di AS Diinspirasi Donald Trump

Deden Gunawan - detikNews
Jumat, 02 Apr 2021 19:47 WIB
Oliver Prasetyo
Oliver Prasetyo, WNI diaspora di Amerika (Foto: screenshot 20detik)
Jakarta -

Sikap rasisme terhadap warga keturunan Asia di Amerika Serikat (AS) disinyalir akibat ulah Donald Trump saat menjadi presiden. Ketika pandemi COVID-19 mulai melanda Amerika Serikat dan negara-negara lain di dunia, Trump pernah menyebut virus Corona dengan China Virus. Dia juga pernah mengganti nama virus Corona dengan Kungflu, yang merujuk bela diri asal China, kungfu.

"Akibatnya, banyak orang yang mendengarkan dan mengikuti pernyataannya. Ini bahaya banget karena menimpa semua orang Asia," kata Oliver Prasetyo dalam program Blak-blakan yang tayang di detikcom, Jumat (2/4/2021).

Dalam beberapa hari terakhir, segelintir warga AS tak cuma mengikuti istilah bernada rasisme itu sebagai umpatan. Mereka juga melakukan tindak kekerasan terhadap orang-orang Asia dengan menyamaratakannya sebagai orang beretnis China.

Oliver, keturunan WNI yang lahir dan besar di New York, salah satu kota paling kosmopolitan di dunia, mengaku pernah beberapa kali mengalami perlakuan rasisme. Dia mencontohkan, beberapa waktu lalu ketika sedang duduk di gerbong kereta, tiba-tiba ada orang yang berkata-kata sinis kepadanya.

"Dia bilang 'China Virus'. Dia panggil saya 'kungflu', dan dia bilang saya harus pulang ke Asia," kata Oliver, yang pernah menjadi model pakaian pria merek GAP.

Akibatnya, kini pria keturunan Manado-Jawa itu mengaku kerap merasa takut bila sendirian naik kereta. Dia membayangkan akan ada orang yang tiba-tiba menyerang dan mendorongnya agar tertabrak kereta. Kekerasan semacam itu, kata dia, bukannya tidak mungkin karena pernah ada seorang ibu tua tiba-tiba ditendang pada bagian dada dan kepalanya.

Jauh sebelum pandemi, rasisme terhadap orang-orang Asia telah menjadi ancaman laten. Memang tak mengemuka di ruang publik, tapi di lingkungan dunia kerja Oliver Prasetyo mengaku pernah mengalaminya. Bahkan ketika dia selama enam tahun menjalani dinas di infanteri.

"Di lingkungan tentara, cuma ada empat orang Asia, termasuk saya. Kami kerap merasakan adanya stereotipe bernuansa rasisme," ujar Oliver, yang pernah kuliah di Jurusan Komunikasi Ramapo College, New Jersey.

Begitu pun saat dia memulai karier di dunia model. Oliver Prasetyo menyebut beberapa tahun lalu industri fashion di AS belum terbuka terhadap model pria keturunan Asia. Penampilan para model berwajah Asia baru ngehit belakangan ini.

Simak video 'Rasisme di AS, Wanita Keturunan Asia Ditendang-Diinjak':

[Gambas:Video 20detik]



(jat/jat)