Jurus KKP Katrol Produktivitas Industri Perikanan Hulu & Hilir

Yudistira Imandiar - detikNews
Selasa, 30 Mar 2021 15:48 WIB
Sakti Wahyu Trenggono
Foto: Kementerian Kelautan dan Perikanan
Jakarta -

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengunjungi sejumlah unit pengolahan ikan (UPI) di kawasan Tangerang, Banten dan Bekasi, Jawa Barat. Pada kunjungan tersebut, Trenggono menampung masukan pelaku usaha untuk menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan industri perikanan dari hulu hingga hilir.

Tiga unit pengolahan ikan yang dikunjungi memproduksi komoditas perikanan untuk ekspor, antara lain udang mentah beku, udang rebus beku, udang berlapis tepung beku, tepung agar-agar rumput laut, tuna beku, tuna loin masak beku, tepung ikan hingga ikan pelagis beku.

"Kami ingin melihat kendala apa yang kira kira dihadapi oleh pelaku usaha. Lalu kemudian harapan apa yang diperlukan. Itu yang menjadi penting buat saya untuk membuat satu kebijakan supaya kebijakan kita bisa mendukung tumbuhnya industri (perikanan)," jelas Trenggono dalam keterangan tertulis, Selasa (30/3/2021).

Kepada Trenggono, sejumah pelaku usaha mengeluhkan minimnya pasokan udang di pasaran. Trenggono pun menyarankan agar pelaku usaha memiliki tambak binaan agar pasokan bahan baku menjadi lebih terjamin dan pembudidaya juga punya kepastian produknya terserap. Harga udang juga menjadi lebih stabil.

Trenggono mengulas udang merupakan komoditas perikanan yang tengah digenjot produksinya oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk memenuhi pasar lokal juga ekspor, bersamaan dengan rumput laut dan lobster. Volume produksi udang tahun 2020 lebih dari 900 ribu ton (setara US$ 24 miliar) dan targetnya mencapai 2 juta ton pada 2024.

Untuk mencapai target itu, jelas Trenggono, sejumlah program telah disusun KKP, di antaranya membangun shrimp estate di sejumlah daerah yang lahan dan kondisi alamnya mendukung, salah satunya Aceh Timur.

Shrimp estate diproyeksikan menjadi pelopor budidaya udang modern di Indonesia dengan hasil produksi yang melimpah dan berkualitas tinggi. Sebab ada campur tangan teknologi dan perencanaan bisnis yang matang dalam pelaksanaannya.

Berkaca pada target komoditas udang yang ditetapkan tersebut, lanjut Trenggono maka diperlukan konektivitas antara sektor hulu dan hilir untuk meningkatkan daya saing hasil perikanan di pasar dalam dan luar negeri.

Selain persoalan udang, Menteri Trenggono juga mendapat masukan dari pelaku usaha mengenai komoditas rumput laut dan tuna. Pengusaha berharap pemerintah mengupayakan pembebasan bea masuk produk perikanan Indonesia ke negara tujuan ekspor.

Trenggono menekankan KKP siap membantu pelaku usaha mengembangkan usaha yang mereka jalani, baik melalui kebijakan, pendampingan, hingga akses pasar. KKP juga mengajak generasi milenial ikut menjalankan usaha sektor kelautan dan perikanan

"Sebagai pemerintah kita harus all out mendukung pelaku usaha atau investor di sektor kelautan dan perikanan. Nah ini tujuannya ya," cetus Trenggono.

Mengenai komoditas udang, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Artati Widiarti yang turut serta dalam kunjungan kerja ini menyebut peningkatan produksi udang sejalan dengan target peningkatan ekspor. Nilai dan volume udang ekspor meningkat pada tahun 2020 dibanding 2019, masing-masing sebesar 19 persen dan 15 persen.

Dalam kunjungan kerja di tiga unit pengolahan ikan di Tangerang dan Bekasi, Menteri Trenggono turut melepas ekspor produk perikanan, meliputi 10,5 ton udang berlapis tepung beku tujuan Jepang dengan nilai Rp 900 juta dan 100 ton tuna loin masak beku tujuan Uni Eropa dengan nilai Rp 8,7 miliar. Trenggono berharap sektor kelautan dan perikanan Indonesia dapat menjadi sektor yang memajukan perekonomian Indonesia.

Simak juga Video: KKP Perkuat Peran Syahbandar di Pelabuhan Perikanan

[Gambas:Video 20detik]



(mul/ega)