Periksa Nurdin Abdullah, KPK Konfirmasi Sejumlah Barang Bukti

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Jumat, 26 Mar 2021 20:36 WIB
Ali Fikri
Ali Fikri (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

KPK memeriksa Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) nonaktif Nurdin Abdullah dan Sekdis PUTR Sulsel Edy Rahmat terkait kasus dugaan korupsi sejumlah proyek infrastruktur di Sulsel. Mereka saling menjadi saksi dalam berkas perkaranya masing-masing.

"Tersangka Nurdin Abdullah dan Edy Rahmat diperiksa dalam kapasitas untuk saling menjadi saksi dalam berkas perkara penyidikan masing-masing tersangka," kata Plt. Juru Bicara KPK Ali Fikri, kepada wartawan, Jum'at (26/3/2021).

Ali menyebut NA dan ER saling dikonfirmasi terkait barang bukti yang ditemukan saat penangkapan.

"Adapun masing-masing tersangka dikonfirmasi antara lain terkait dengan penyitaan atas berbagai barang bukti yang ditemukan pada saat dilakukan penangkapan dan penggeledahan," ujar Ali.

Diketahui, Nurdin ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap proyek di Sulsel. Selain Nurdin, ada dua pihak lain yang ditetapkan menjadi tersangka. Nurdin ditetapkan sebagai penerima suap bersama Sekdis PUTR Sulsel, Edy Rahmat. Sedangkan Agung Sucipto menjadi tersangka sebagai penyuap.

Ketua KPK Firli Bahuri menyebut Nurdin Abdullah diduga menerima suap terkait sejumlah proyek infrastruktur di Sulsel dari Direktur PT Agung Perdana Bulukumba (APB) Agung Sucipto. Agung disebut berkeinginan mendapatkan beberapa proyek pekerjaan infrastruktur di Sulsel, yang sebelumnya yang bersangkutan telah mengerjakan beberapa proyek di Sulsel beberapa tahun sebelumnya.

Firli mengatakan Agung diketahui berkomunikasi aktif dengan Edy Rahmat, yang disebut pula sebagai orang kepercayaan Nurdin Abdullah. Komunikasi itu dijalin agar Agung kembali mendapatkan proyek di Sulsel untuk tahun ini.

Hingga akhirnya Nurdin Abdullah disebut sepakat memberikan pengerjaan sejumlah proyek, termasuk di Wisata Bira, untuk Agung. Firli mengatakan suap dari Agung untuk Nurdin diserahkan melalui Edy Rahmat.

"AS selanjutnya pada tanggal 26 Februari 2021 diduga menyerahkan uang sebesar Rp 2 miliar kepada NA (Nurdin Abdullah) melalui ER (Edy Rahmat)," sebut Firli dalam konferensi pers, Minggu, (28/2) dini hari.

Firli menyebut Nurdin Abdullah diduga menerima uang dari kontraktor lain pada 2020, yaitu Rp 200 juta, Rp 1 miliar, dan Rp 2,2 miliar, sehingga total uang yang diduga diterima Nurdin Abdullah sekitar Rp 5,4 miliar. Namun Firli tidak merinci nama kontraktor lainnya itu.

(knv/knv)