Penipuan Loker Catut Bank Pelat Merah, Pelaku Raup Rp 40 Juta dari 20 Korban

Yogi Ernes - detikNews
Kamis, 25 Mar 2021 19:44 WIB
Polda Metro tangkap pelaku penipuan lowongan kerja catut bank pelat merah
Polda Metro menangkap pelaku penipuan lowongan kerja yang mencatut bank pelat merah. (Yogi Ernes/detikcom)
Jakarta -

Pria inisial MTM ditangkap setelah melakukan penipuan rekrutmen karyawan Bank BNI. Dari 20 korban yang bisa dikelabui, pelaku berhasil meraup keuntungan puluhan juta rupiah.

"Dari (korban) rekrutmen BNI 20 orang sejak 2020 dengan keuntungan yang didapat Rp 40 juta," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (25/3/2021).

Praktik penipuan tersebut diketahui dari syarat uang yang harus dikirimkan korban dari e-mail rekrutmen palsu yang dibuat pelaku. Para calon korban diharuskan membayar Rp 1,7 juta saat melakukan pengisian data diri di e-mail rekrutmen palsu tersebut.

"Semua langsung masuk ke dia pribadi. Setelah isi dokumen, ada terakhir dibutuhkan transportasi Rp1,7 juta. Korban terpengaruh transfer ke sana," ungkap Yusri.

Jajaran Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya membongkar praktik penipuan rekrutmen tenaga kerja Bank BNI. Pelaku inisial MTM diamankan di daerah Sulawesi Selatan.

"Jadi dia undang orang dan menjanjikan bisa buat orang bekerja melalui media sosial, tetapi dengan ada persyaratan tertentu, termasuk beberapa uang yang harus disiapkan," terang Yusri.

Kasus ini bermula dari laporan pihak Graha BNI 46 ke Polda Metro Jaya pada 1 Februari 2021. Saat itu ada 20 korban yang mengaku menjadi korban penipuan tersangka.

Selain melakukan penipuan rekrutmen yang mencatut BNI, pelaku MTM ternyata melakukan penipuan rekrutmen di sejumlah perusahaan BUMN lainnya.

"Ada beberapa akun palsu milik BUMN lain, misal Pertamina, PT Wika, dan sebagainya. Akun dia buat sendiri akun palsu tapi mengatasnamakan perusahaan BUMN dan perusahaan lain," ungkap Yusri.

Atas perbuatannya, pelaku kini dijerat Pasal 35 dan Pasal 51 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Pelaku terancam hukuman 12 tahun penjara dan denda Rp 12 miliar.

(ygs/mea)