Dedi Mulyadi Ungkap Masalah Penyerapan Gabah Petani

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Kamis, 25 Mar 2021 09:58 WIB
Dedi Mulyadi
Foto: Instagram @dedimulyadi71
Jakarta -

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi memberikan kritik ke perusahaan BUMN Bulog. Seperti diketahui, belakangan terjadi polemik soal impor beras. Dedi pun memaparkan permasalahan pada sisi Bulog.

Pertama, kata dia, Bulog tak memiliki kemampuan menyerap gabah petani sehingga para petani menjual hasil padinya ke tengkulak. Namun sering kali tengkulak tidak semuanya memiliki modal yang cukup.

"Banyak tengkulak yang baru bisa membayar setelah penjualan sehingga ada titik waktu banyak para petani kecil yang mengalami kekosongan keuangan karena menunggu hasil gabahnya menjadi beras dan laku di pasar," ujar Dedi dalam keterangannya, Kamis (25/3/2021).

Hal kedua, lanjut Dedi, daya serap Bulog rendah karena seringkali membeli beras di bawah tengkulak. Misalnya, tengkulak membeli gabah dari petani Rp 4.200 per kilogram, sedangkan Bulog hanya Rp 3.800 per kilogram. Hal itu karena memang Bulog memiliki kehati-hatian dalam membeli gabah.

Selain itu, kata dia, Bulog tidak mampu menjual beras. Hal itu terlihat dari banyaknya stok lama yang tak bisa keluar.

"Banyak beras lama tak terpakai berarti tak bisa keluar kan, sehingga mengalami kerusakan," ungkap politisi Golkar ini.

Lebih lanjut, Dedi menyebut Bulog tak memiliki gudang dengan teknologi memadai dalam penyimpanan beras. Akibatnya, beras yang disimpan di gudang tidak bisa bertahan lama sehingga mudah busuk. Selama ini, Bulog menyimpan beras hanya dengan diganjal memakai valet sehingga beras tidak bisa bertahan lama.

"Jadi Bulog itu seperti terperangkap. Beli (gabah) nggak bisa, jual (beras) juga nggak bisa. Bahkan beras sisa impor yang tahun 2018 dan 2019 pun belum terjual. Ini yang menjadi problematika dari sisi pengelolaan," kata Dedi.

Dedi mengatakan, dengan kondisi seperti itu, kinerja Bulog membingungkan. "Seharusnya Bulog punya peran menyerap gabah petani. Namun gabah petani tak bisa dibeli juga. Misalnya, dari 8 juta ton beras, yang bisa dibeli Bulog paling 30%," pungkasnya.

Simak juga 'Saran Ombudsman untuk Menko Perekonomian dan Bulog soal Impor Beras':

[Gambas:Video 20detik]

(prf/ega)