Soal Impor Beras, Gubernur Sumsel: Kita Limpah Ruah, Produksi Jutaan Ton

Prima Syahbana - detikNews
Selasa, 23 Mar 2021 15:47 WIB
Gubernur Sumsel
Foto: Prima Syahbana
Palembang -

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan wilayahnya tidak memerlukan impor beras. Hal ini menanggapi soal isu impor beras. Ia bahkan mengatakan stok beras di Sumsel mengalami surplus.

Impor kata Herman, ditujukan untuk daerah lain yang bukan penghasil beras dan sangat berkebutuhan dengan suplai beras dari pemerintah.

"Pangan di Sumsel, kita (Sumsel) ini kan surplus. Mungkin persoalannya isu impor itu bukan untuk Sumsel, tapi mungkin untuk daerah-daerah lain yang berkebutuhan. Kalau untuk Sumsel, saya yakin kita tidak butuh impor. Kita saja limpah ruah, bahkan produksi beras hingga jutaan ton," kata Herman Deru kepada wartawan, Selasa (23/3/2021).

Dikatakan Herman, hal itu berdasarkan data Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura, Sumsel memiliki produksi beras mencapai 2,7 juta ton pada 2020 lalu.

"Saat ini saja, Sumsel sudah masuk masa panen sehingga diyakini produksi beras Sumsel pada 2021 ini akan melebihi jumlah tersebut," ungkap pria yang biasa disapa HD itu.

Di samping itu, Herman meminta isu beras impor ini jangan sampai semakin membuat petani tersiksa. Sebab dampak paling besar dengan adanya isu ini adalah kepada petani.

"Maksud saya kebijakan jangan anomali atau bertolak belakang. Artinya, walaupun pemerintah membuat kebijakan beras impor namun itu bukan untuk Sumsel. Karena kita butuh spirit petani ini jangan bertolak belakang. Di satu sisi kita ingin produksi ini bertambah, tapi di satu sisi isu itu membuat dampak semakin jebloknya harga," harapnya.

Disampaikan Herman saat ini harga adalah bagian yang paling penting bagi petani.

"Yang paling penting, petani bisa menerima harga (harga jual beras atau gabah) yang lebih baik," ujarnya.

Ketika disinggung terkait harga gabah petani yang anjlok, Herman mengatakan sudah menghubungi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk segera menindaklanjuti keluhan para petani di Sumsel. Apalagi diketahui harga jual gabah di tingkat petani berkisar Rp 4.000 per kilogramnya.

"Saya sudah telepon Mentan, dan dia (Mentan) menunggu suratnya nanti. Dia akan memastikan mengirim satgas penyetabilan harga. Kementan kan punya uang untuk membantu ini. Kalau satgas Sumsel juga sudah ada dan terus bertugas dalam penyerapan beras petani," katanya.

(ncm/ega)