Trigana Tergelincir, Pakar: Lebih Baik Pesawat Komersial Gunakan Soetta

Audrey Santoso - detikNews
Senin, 22 Mar 2021 16:27 WIB
Pesawat kargo Trigana Air PK-YSF yang tergelincir di landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, tengah dievakuasi. Badan pesawat dipotong menjadi beberapa bagian.
Foto: Badan pesawat Trigana Air yang tergelincir (dok. Humas Lanud Halim)
Jakarta -

Peristiwa tergelincirnya pesawat Trigana Air PK-YSF membuat kegiatan operasional di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur terganggu. Chairman Indonesia Center for Air Power Studies (ICAP) Marsekal (Purn) Chappy Hakim mengusulkan agar penerbangan sipil komersil diarahkan seluruhnya ke Bandara Soekarno Hatta (Soetta) saja saat ini, mengingat lalu lintas di Bandara Soetta di masa pandemi tak padat.

"Sebaiknya di tengah traffic yang tidak padat sekarang ini, lebih baik pesawat sipil komersial menggunakan Soetta saja," kata Chappy kepada detikcom, Senin (22/3/2021).

Chappy mengusulkan hal tersebut agar ke depannya jika terulang peristiwa serupa, tak mengganggu instalasi dan operasional pertahanan dan keamanan (hankam). Seperti diketahui, Bandara Halim Perdanakusuma berdampingan dengan Pangkalan TNI Angkatan Udara (AU) Halim Perdanakusuma.

"Bila terjadi accident tidak membahayakan instalasi hankam di Halim dan tidak mengganggu operasional penerbangan hankam. Tak hanya itu, kalau kecelakaan kemarin itu terjadinya Soetta mungkin tidak begitu fatal karena runway-nya lebih luas, lebih panjang, runway-nya di Soetta ada tiga," ucap Chappy.

"Kalau terjadi kecelakaan, itu bisa diatasi maksimal di Soetta. Kemudian taxiway-nya cukup. Alat pemadam kebakaran, penanggulangan kecelakaannya lengkap," sambung Chappy.

Chappy mengusulkan pemerintah mengembalikan fungsi semula Bandara Soetta dan Halim Perdanakusuma. Chappy mengatakan dahulu penerbangan sipil dan komersil diarahkan ke Halim Perdanakusuma karena lalu lintas penerbangan di Soetta padat.

"Soetta kan disiapkan untuk penerbangan sipil, Halim untuk militer. Kembalikan saja sesuai fungsinya. Tempo hari (Halim Perdanakusuma) terpaksa digunakan karena traffic (Soetta) yang padat. Sekarang kan traffic cuman dikit" jelas Chappy.

"Bila terjadi kecelakaan juga jelas otoritas bandara mana yang bertanggung jawab, bila ada unsur kesalahan di pihak bandara/ATC dan lain-lain," sambung dia.

Mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) juga menerangkan Bandara Halim Perdanakusuma tak didesain untuk penerbangan sipil. Bandara tersebut, lanjut Chappy, memiliki runway yang dinilainya cukup pendek serta sempit dan tak memiliki taxiway.

"Halim runway-nya relatif pendek, sempit. Taxiway-nya nggak ada. Di Halim nggak ada taxiway yang memfasilitasi pesawat itu antre untuk take off-landing. Jadi dari tempat parkir menuju runway. Halim kan tidak didesain untuk penerbangan sipil. Makanya kemarin (Trigana Air) tidak bisa cepat evakuasi, harus dipotong-potong dulu kan. Dan proses evakuasinya membuat bandara sempat tutup," ungkap Chappy.

Sebelumnya, otoritas Bandara Halim Perdanakusuma memastikan proses evakuasi pesawat Trigana Air PK-YSF telah selesai dilakukan. Potongan terakhir badan pesawat berhasil dipindahkan dari landasan pacu pada Minggu (21/3), sekitar pukul 15.40 WIB dan diangkut menuju area hanggar Skadron Teknik 021 Lanud Halim Perdanakusuma.

"Alhamdulillah tadi potongan terakhir bagian pesawat Trigana PK-YSF telah berhasil dipindahkan dari lokasi kejadian di runway Halim Perdanakusuma menuju area yang sudah ditentukan di sisi selatan Bandara Halim Perdanakusuma," kata Executive General Manager Bandara Halim Perdanakusuma Marsma Nandang Sukarna saat dimintai konfirmasi kemarin.

Diketahui, pesawat Trigana Air PSK YSF tergelincir di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Pesawat tersebut dalam kondisi keluar runway.

Juru bicara Kemenhub, Adita Irawati, saat dimintai konfirmasi, Sabtu (20/3), mengatakan peristiwa ini terjadi sekitar pukul 11.26 WIB. Pesawat keluar runway saat landing.

(aud/tor)