Minta Dukungan DPR, Menaker Ingin SIPK Bisa Ikuti Worknet Korsel

Abu Ubaidillah - detikNews
Selasa, 16 Mar 2021 19:47 WIB
Menaker Ida Fauziyah
Foto: dok. Kemnaker
Jakarta -

Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah mengatakan sistem informasi pasar kerja (SIPK) Indonesia saat ini masih belum optimal, belum ideal, dan terbatas. Sehingga dibutuhkan upaya membangun SIPK yang ideal untuk mempercepat pengurangan pengangguran dan memperluas kesempatan kerja.

"Layanan informasi pasar kerja yang disediakan terbatas, sedikit pemangku kepentingan terlibat, dan kualitas dan variasi data terbatas. Tentu (SIPK) membutuhkan perbaikan dan kami mohon dukungan Komisi IX terkait upaya kami membangun sistem informasi pasar kerja yang ideal," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (16/3/2021).

Pernyataan ini disampaikan Ida saat memaparkan Grand Design Kemnaker dan Bappenas dalam penciptaan dan pemenuhan pasar kerja 2021 di masa pandemi COVID-19, dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta.

Ida menjelaskan berdasarkan hasil studi Bappenas dan Bank Dunia tahun 2020 menunjukkan SIPK Indonesia berada pada tingkat dasar menuju menengah. Ia ingin SIPK bisa mengikuti Worknet (SIPK Korea Selatan) yang sudah pada level advance.

"Sistem informasi pasar kerja kita harus didorong lebih kuat lagi. Setidak-tidaknya menuju sistem pasar kerja ideal seperti di Korea Selatan yang memiliki lima karakteristik. Yaitu relevan, handal, efisien, berfokus pada klien, dan komprehensif," ujarnya.

Ia menambahkan permasalahan pasar kerja di Indonesia, yaitu mismatch lulusan pendidikan dengan dunia kerja, job matching yang kurang efisien, kurangnya jumlah tenaga kerja yang sesuai kebutuhan kerja, dan rendahnya produktivitas tenaga kerja. Pengembangan, perbaikan, dan optimalisasi pasar kerja menemukan momentumnya di masa pandemi, mengingat ketersediaan data ketenagakerjaan yang dinamis menjadi penentu kebijakan di bidang ketenagakerjaan.

"Contoh, pelaksanaan BSU dengan BPJS Ketenagakerjaan kemarin, menjadi modal awal integrasi sistem pasar kerja yang baik," lanjutnya.

Ia menambahkan grand design pengembangan pasar kerja Indonesia dibagi menjadi tiga tahap, yakni jangka pendek, menengah, dan panjang. Pada jangka pendek, (realtime) dikembangkan sistem informasi pasar kerja (labor market information system-LMIS). Selanjutnya, untuk kepentingan perencanaan pendidikan dan pelatihan vokasi jangka menengah dikembangkan sistem monitoring keterampilan (skill monitoring system).

"Sedangkan untuk analisis tenaga kerja jangka panjang dan bersifat strategis terkait kebijakan pembangunan ekonomi jangka menengah dan jangka panjang dikembangkan kerangka analisis permintaan tenaga kerja (demand analysis framework) atau perencanaan tenaga kerja (manpower planning framework)," pungkasnya.

(prf/ega)