Round-Up

Cerita di Balik Duit Puluhan Miliar di Kasus Benur Diungkap KPK

Tim detikcom - detikNews
Senin, 15 Mar 2021 20:04 WIB
Petugas KPK menunjukan tumpukan uang pecahan Rp 100.000 senilai Rp 52,3 miliar di Gedung KPK, Jakarta, Senin (15/3/2021). Uang tersebut merupakan uang sitaan dari perkara korupsi ekspor benih lobster (benur) yang menyeret mantan Menteri KKP Edhy Prabowo.
Tumpukan Rp 52,3 miliar disita KPK diduga berkaitan dengan perkara suap dalam perizinan ekspor benur yang menjerat mantan Menteri KKP Edhy Prabowo (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Penyidik KPK mulai menebar jaring penyitaan dalam perkara dugaan suap di balik pemberian izin ekspor benih lobster atau benur. Kabar terakhir jaring KPK itu menjerat duit puluhan miliar rupiah yang diduga berkaitan dengan perkara yang tengah diusut.

Pada Senin, 15 Maret 2021, KPK menerima kehadiran dari pihak BNI 46 cabang Gambir yang membawa tumpukan uang tunai senilai total Rp 52,3 miliar. Tampak uang itu dikemas dalam kantung plastik warna bening dengan pecahan Rp 100 ribu. Dalam satu kantung plastik tersebut berisi Rp 1 miliar, total kurang lebih ada 52 plastik yang membungkus uang sebesar Rp 52,3 miliar tersebut.

Penyidik KPK lantas menyita uang itu untuk proses penyidikan lebih lanjut. Dari mana uang itu berasal?

"Hari ini tim penyidik KPK melakukan penyitaan aset berupa uang tunai sekitar Rp 52,3 miliar dari Bank BNI 46 cabang Gambir yang diduga berasal dari para eksportir yang telah mendapatkan izin dari KKP untuk melakukan ekspor benih bening lobster tahun 2020," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri kepada wartawan di KPK.

"Pemberantasan korupsi membutuhkan peran serta masyarakat, untuk itu KPK berterima kasih dan mengapresiasi pihak Bank BNI 46 atas kerja sama dalam upaya penyelesaian perkara dugaan korupsi ini," imbuhnya.

Dalam perkara ini mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo memang dijerat KPK dengan dugaan penerimaan suap terkait pemberian izin ekspor benur. Seorang pemberi suap atas nama Suharjito telah dijerat dan saat ini sedang diadili di Pengadilan Tipikor Jakarta tapi KPK menduga masih ada pihak lain yang terlibat.

Kembali soal urusan uang yang disita KPK itu. Ali mengatakan awal mulanya ada dugaan bila Edhy Prabowo sewaktu aktif sebagai Menteri KKP memberikan perintah pada Sekjen KKP Antam Novambar membuat surat perintah tertulis terkait dengan penarikan jaminan bank atau bank garansi dari para eksportir.

"Tersangka EP (Edhy Prabowo) sebelumnya diduga memerintahkan Sekjen KKP agar membuat surat perintah tertulis terkait dengan penarikan jaminan bank atau Bank Garansi dari para eksportir dimaksud kepada Kepala BKIPM atau Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan," ucap Ali.

Ali mengatakan ada dugaan bila perihal bank garansi itu tidak ada aturannya. Hal ini masih didalami lebih lanjut oleh penyidik KPK.

"Selanjutnya Kepala BKIPM memerintahkan Kepala Kantor Balai Karantina Besar Jakarta I Soekarno Hatta untuk menerima Bank Garansi tersebut. Aturan penyerahan jaminan bank dari para eksportir sebagai bentuk komitmen dari pelaksanaan ekspor benih bening lobster tersebut diduga tidak pernah ada," kata Ali.

Tonton video 'KPK Buka Peluang Periksa Antam Novambar Terkait Suap Ekspor Benur':

[Gambas:Video 20detik]



Munculnya nama Antam Novambar ini disebut Ali tidak menutup kemungkinan untuk pemanggilan sebagai saksi. Simak di halaman selanjutnya.