Kogabwilhan III Pastikan Korban Kontak Tembak di Intan Jaya Anggota KKSB

Wilpret Siagian - detikNews
Senin, 08 Mar 2021 12:03 WIB
Ilustrasi personel TNI (dok Puspen TNI)
Ilustrasi Personel TNI (Dok. Puspen TNI)
Jayapura -

Banyak informasi beredar bahwa korban baku tembak di Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua, adalah seorang siswa SMP kelas II. Pihak Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III memastikan korban baku tembak tersebut ialah anggota kelompok separatis bersenjata (KSB) yang didasarkan fakta-fakta di lapangan.

"Dari barang bukti yang didapat, dipastikan bahwa korban adalah KSB. Wajah, ciri, dan atribut korban (gelang dan cincin) sama dengan foto-foto yang ada di telepon genggamnya dan itu menjadi bukti kuat bahwa yang bersangkutan adalah KSB," kata Kepala Penerangan (Kapen) Kogabwilhan III, Kolonel Czi IGN Suriastawa, dalam keterangan tertulis, Senin (8/3/2021).

Baku tembak tersebut terjadi di Kampung Puyagia, Distrik Sugapa, Intan Jaya, Papua, pada Sabtu (6/3) sekitar pukul 11.52 WIT. Dalam peristiwa tersebut, seorang anggota KKSB pun mengalami luka.

Di media sosial (medsos), banyak disebarkan informasi bahwa korban merupakan warga sipil yang masih duduk di kelas II SMP. Kolonel Suriastawa mengatakan pihak OPM kerap kali membentuk opini untuk menyudutkan aparat TNI-Polri dan pemerintah Indonesia.

Dia menjelaskan, meski di internal OPM terdapat banyak faksi yang saling berebut kepentingan, secara garis besar, OPM mempunyai tiga sayap gerakan, yakni sayap politik, klandestin, dan bersenjata.

"Tiga sayap gerakan ini memanfaatkan medsos untuk saling berkomunikasi, merencanakan aksi dan menyebarkan berita bohong untuk membentuk opini buruk tentang pemerintah Indonesia (termasuk TNI-Polri) terkait masalah Papua melalui berbagai platform medsos," jelasnya.

"Jadi yang dihadapi bukan hanya kelompok separatis bersenjata (KSB) yang ada di gunung-gunung saja, tetapi juga politik dalam dan luar negeri dan kelompok klandestin yang bisa berprofesi apa pun," tambahnya.

Selain itu, di medsos, OPM sering menyebarkan informasi telah menembak puluhan anggota TNI-Polri hingga tewas. Mereka, lanjutnya, menyertakan waktu dan tempat tertentu agar seolah-olah benar terjadi, padahal berita tersebut bohong alias (hoax).

Padahal, kata Kolonel Suriastawa, untuk mengetahui kebenaran jatuhnya korban dari TNI-Polri sangatlah mudah. Sebab TNI-Polri adalah alat negara resmi yang tertib adminstrasinya.

"Satu saja personel gugur, pasti akan diikuti dengan proses administrasi yang jelas, dari mulai evakuasi korban, pemakaman, sampai dengan pemenuhan hak-hak korban dan ahli warisnya," tambahnya.

Dia mengatakan KKSB kerap menyebarkan berita bohong untuk memprovokasi, mengintimidasi, sekaligus membentuk opini bahwa gerakan sayap bersenjata mereka selalu unggul. Tapi sebaliknya, begitu anggotanya tewas dalam kontak tembak ataupun ditindak tegas TNI-Polri, mereka mengklaim korban sebagai warga sipil.

"Tujuannya untuk membentuk opini dunia dengan menyudutkan TNI-Polri dan pemerintah Indonesia," katanya.

Kolonel Suriastawa menambahkan, sayap gerakan bersenjata KKSB bergerilya dalam kelompok-kelompok kecil dan tidak semuanya membawa senjata saat melancarkan aksinya.

"Jangan dibayangkan seperti foto mereka di medsos yang bergerombol puluhan/ratusan orang dan semuanya bersenjata. Dalam aksi gerilyanya, dari 5-7 orang hanya 1 atau 2 yang bersenjata dan bila terjadi kontak, orang yang selamat bertugas membawa kabur senjata. Kemudian di-posting di medsos mereka bahwa korban adalah warga sipil karena tidak bersenjata," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Kontak tembak TNI dengan kelompok KKSB terjadi di Intan Jaya, Papua. Prajurit TNI yang terlibat kontak tembak ialah Tim Alap-alap 2 yang dipimpin Ltd Inf Alif dari Yonif Raider 715/MTL. Diduga, lanjutnya, kelompok KKSB yang melakukan kontak senjata dengan TNI berasal dari kelompok Undianus Kogoya.

"KSB diperkirakan dari kelompok Undianus Kogoya dengan kekuatan 4 orang membawa 1 pucuk senjata bergerak dari arah Kampung Pesiga sedang menuju arah Kampung Kumbalagupa, Distrik Sugapa, Intan Jaya, (lalu terjadi) kontak tembak dengan Tim dari YR 715," ujar Suriastawa dalam keterangannya, Sabtu (6/3).

"Dari kontak tembak tersebut, dilaporkan 2 orang KSB tertembak, (yakni) 1 orang MD (meninggal dunia) dan 1 orang tertembak di kaki tetapi berhasil melarikan diri. KSB lain kabur membawa senjata," tambahnya.

(jbr/jbr)