Sekjen Gerindra: Bangsa Indonesia Berhutang kepada NU

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 07 Mar 2021 16:49 WIB
Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani memberikan sambutan dalam pelantikan dan rapat kerja pengurus cabang Nahdlatul Ulama Kota Tangerang pada Minggu (7/3/2021). Dok Istimewa
Foto: Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani memberikan sambutan dalam pelantikan dan rapat kerja pengurus cabang Nahdlatul Ulama Kota Tangerang pada Minggu (7/3/2021). Dok Istimewa
Jakarta -

Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani menghadiri rapat kerja pengurus cabang Nahdlatul Ulama Kota Tangerang. Muzani menyatakan bangsa Indonesia berhutang kepada para Ulama, Kiai, dan Nahdatul Ulama (NU).

"Kita bersyukur kepada Tuhan, NU dalam sejarahnya tanpa diminta selalu hadir di tengah-tengah kehidupan bangsa," ujar Ahmad Muzani saat menghadiri Pelantikan dan Rapat Kerja Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Tangerang, Minggu (7/3/2021).

Acara ini juga dihadiri oleh Ketua Harian PBNU Kiyai Haji Marsudi Suhud.

Dalam kesempatan ini, Muzani mengatakan, sebagai bangsa yang majemuk dan berbineka, sesungguhnya ada kerawanan terhadap perpecahan. Karakteristik masyarakat Indonesia yang berpenghuni di berbagai pulau, memiliki banyak etnis, ras, bahasa, dan agama menjadi faktor dari kerawanan itu. Namun kerawanan itu bisa disingkirkan karena peran ulama khususnya dari NU.

"Tetapi para ulama dan kiai NU tidak pernah berhenti dalam menyebarkan Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Dalam sejarahnya, para ulama dan kiai selalu menebarkan persatuan, persaudaraan, dan persahabatan di tengah-tengah kehidupan bangsa," tutur Muzani yang juga merupakan wakil ketua MPR ini.

Oleh karena itulah, lanjut Muzani, bangsa Indonesia berhutang kepada NU. Muzani menambahkan, bangsa Indonesia bisa tetap bersatu sehingga masyarakat tentram, dan tenang karena perjuangan banyak pihak, salah satu faktor penyebabnya adalah keberadaan ulama.

"Perjuangan para ulama dan kiai dalam memperjuangkan persatuan, perdamaian, persaudaraan tidaklah mudah. Tantangannya berat. Mereka kerap disalahpahami, salah arti, bahkan di-bully oleh sejumlah pihak," tutur Muzani.

"Namun para kiai, tidak pernah berhenti dan tidak pernah berputus asa untuk terus menebarkan persatuan dan kesatuan bangsa, dan hasilnya sekarang kita rasakan," sambung pria kelahiran Tegal ini.

Muzani lantas memberikan contoh beberapa bangsa yang saat ini perang saudara memperebutkan kekuasaan.

"Lihatlah banyak Negara yang saat ini saling bertikai, seperti Yaman, Afghanistan, Libya, Suriah, negara-negara tersebut hidup tidak tenang dan tidak ada pembangunan," kata Muzani.

"Tugas kita saat ini adalah bagaimana agar keberkahan turun dalam kehidupan bangsa kita. Maka para kyai pun mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak shalawat, dzikir, yasinan. Yang semuanya itu dilakukan di tengah-tengah masyarakat kita karena para ulama dan kita semua meyakini bahwa kehidupan material yang padat, pembangunan yang terus-menerus dilakukan tidak akan berkah jika spritual tidak dibangun," terang Muzani.

Tugas NU tidak akan pernah berhenti, memberikan ketenangan dalam kehidupan masyarakat kita.

"Inilah utang kita, utang bangsa Indonesia kepada NU, utang bangsa Indonesia kepada para ulama dan kiai, karena itu hidup-hidupkan lah selalu NU," pungkas Muzani.

(fjp/tor)