Marak Pemerasan Seksual Online, PKB Minta Polri Gencarkan Patroli Siber

Matius Alfons - detikNews
Sabtu, 06 Mar 2021 08:25 WIB
Jazilul Fawaid`
Foto: dok. MPR
Jakarta -

Polri mengungkap modus pemerasan seksual online atau sextortion kian marak terjadi di Indonesia. Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid meminta Polri terus melakukan patroli siber untuk melindungi masyarakat.

Awalnya Jazilul menjelaskan terkait semakin bervariasinya kejahatan melalui media online. Menurutnya, para pelaku akan mencari kelemahan korban untuk mendapatkan keuntungan.

"Modus kejahatan seksual lewat online makin bervariasi saja, mulai penipuan, transaksi seksual, dan pemerasan. Pelakunya pasti mencari kelemahan korban sehingga mendapat keuntungan dengan cara seperti kasus yang terjadi," kata Jazilul saat dihubungi, Jumat (5/3/2021).

Anggota Komisi III DPR RI ini meminta Polri terus melakukan patroli siber di media sosial. Dengan begitu, masyarakat akan tetap terlindungi.

"Kami dukung Polri untuk terus melakukan patroli siber untuk menjaga masyarakat dari kejahatan online," ucapnya.

Tak hanya itu, Wakil Ketua MPR ini juga meminta masyarakat selalu waspada dalam menggunakan media online. Dia juga berharap Polri terus memberi informasi terkait modus-modus penipuan di media online kepada masyarakat.

"Masyarakat agar waspada dalam menggunakan jejaring online. Polisi gencar memberikan info terkait modus-modus penipuan via jejaring online," ujarnya.

Seperti diketahui, pemerasan seksual online atau sextortion kian marak terjadi di Indonesia. Motifnya pun beragam, dari ekonomi, dendam karena putus cinta, hingga penyimpangan seksual.

Modus yang digunakan juga bermacam-macam, mulai metode phishing dengan mengirim link lewat chat korban hingga melalui penawaran video call sex (VCS).

"Kita melihat banyak di medsos banyak menawarkan VCS dengan berbayar dan sebagainya. Itu berbahaya, karena video itu justru bisa direkam kemudian disebarkan. Itulah sebenarnya sarana orang-orang itu untuk memeras. Kemudian disengaja, itu mereka merekam kegiatan aktivitas seksual kita kemudian disebarkan, dan dia mengancam kalau nggak ngasih duit atau memberikan sejumlah uang disebarkan," kata Kasubdit 1 Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri Kombes Reinhard Hutagaol melalui dialog 'Waspada Ancaman Pemerasan Seksual di Internet' yang disiarkan kanal YouTube Siber TV, seperti dilihat detikcom, Jumat (5/3/2021).

Simak video 'BSSN Deteksi 495 Juta Serangan Siber di Indonesia Pada 2020':

[Gambas:Video 20detik]



(maa/idn)