Syahganda Minta Hadir Langsung di Ruang Sidang: Supaya Bisa Saya Ekspresikan

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Kamis, 04 Mar 2021 16:54 WIB
Sidang Syahganda Nainggolan (Luqman Nurhadi/detikcom)
Sidang Syahganda Nainggolan (Luqman Nurhadi/detikcom)
Jakarta - Terdakwa Syahganda Nainggolan meminta majelis hakim hadir langsung di ruang sidang. Syahganda, yang selama ini mengikuti persidangan secara virtual, mengaku siap menjelaskan soal kebohongan hingga keonaran yang didakwakan kepadanya.

"Kalau bisa saya bisa menerangkan pemeriksaan tentang saya ini di hadapan Yang Mulia, karena supaya semua hal yang saya bisa ekspresikan tentang kebohongan, keonaran, dan keributan itu bisa saya jelaskan sendiri bagi saya secara langsung," kata Syahganda secara virtual dalam persidangan di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat, Kamis (4/3/2021).

Menurutnya, sidang secara virtual sedikit menghambatnya dalam menyampaikan pernyataan. Karena itu, dia meminta dihadirkan langsung di ruang sidang untuk memudahkan memberikan keterangan.

"Karena teknologi ini kan kadang-kadang meskipun baik, kadang-kadang teknologi ini belum dapat ini (maksimal) dalam persidangan, Yang Mulia," ungkap Syahganda.

Dalam kesempatan yang sama, tim penasihat hukum Syahganda juga meminta majelis hakim mempertimbangkan agar terdakwa bisa dihadirkan langsung ke ruang sidang. Hakim ketua Ramon Wahyudi pun mengatakan akan mempertimbangkannya terlebih dahulu.

"Kami mohon permohonan kami setidaknya kalau pemeriksaan terdakwa bisa dihadirkan," ujar salah satu tim penasihat hukum Syahganda.

"Nanti akan kami pertimbangkan," ucap hakim.

Dalam sidang kali ini, kubu Syahganda menghadirkan saksi ahli bahasa, Reka Yuda Mahardika. Namun, jaksa penuntut umum mengajukan keberatan karena saksi ahli tidak dilengkapi surat tugas dari instansinya dan sebelum tidak masuk BAP penyidikan.

"Kalau majelis berpendapat lain, memberi kesempatan, apa yang disampaikan ahli hanya untuk didengar di persidangan, bukan sebagai pertimbangan," ucap jaksa Arief Syafriyanto.

"Kami konsisten tetap kami anggap bukan sebagai keterangan ahli mengingat tidak bisa divalidasi," tambahnya.

Sementara itu, penasihat hukum Syahganda, Abdullah Al Katiri, menegaskan saksi yang dihadirkan bukan mewakili institusi, melainkan hadir secara individu.

"Ini individu Yang Mulia, bukan dari institusi," ujar Al Katiri.

Dalam perkara ini, Syahganda didakwa menyebarkan berita bohong terkait kasus penghasutan demo menolak omnibus law yang berujung ricuh di Jakarta. Syahganda didakwa melanggar Pasal 14 ayat 1 Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan/atau Pasal 14 ayat (2) dan Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Dalam pasal ini, Syahganda terancam pidana penjara 10 tahun.

Simak juga Video: Habib Rizieq 'Hadir' di Acara KAMI, Singgung Tahanan Politik

[Gambas:Video 20detik]



(run/man)