Anak Krakatau-Tambora, Ini Daftar Gunung yang Berpotensi Timbulkan Tsunami

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Kamis, 04 Mar 2021 13:32 WIB
Kondisi Gununga Anak Krakatau pada Selasa (1/1/2019).
Ilustrasi (Kondisi Gununga Anak Krakatau pada Selasa (1/1/2019) (Antara Foto/Sigid Kurniawan)
Jakarta -

Badan Geologi Kementerian ESDM mengungkap beberapa aktivitas gunung api yang berpotensi menimbulkan gelombang tsunami. Badan Geologi mengatakan pihaknya terus memantau aktivitas gunung api tersebut sehingga bisa mengeluarkan peringatan dini.

"Di darat itu setidaknya ada lima gunung yang mungkin berpotensi besar menimbulkan tsunami. Antara lain Gunung Anak Krakatau, Tambora, Rokatenda, Ili Werung, Gunung Raung, dan Gamkonora," kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono dalam Rakornas Penanganan Bencana Tahun 2021 hari kedua yang disiarkan YouTube BNPB, Kamis (4/3/2021).

Untuk diketahui, Gunung Anak Krakatau terdapat di Selat Sunda, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa NTB, Gunung Rokatenda di Pulau Palu'e NTT, Gunung Ili Werung di Lembata NTT, Gunung Raung di Sitaro, Sulawesi Utara, dan Gunung Gamkonora di Pulau Halmahera.

Eko menjelaskan ada enam gunung api di laut yang juga berpotensi menimbulkan tsunami. Gunung api tersebut adalah Gunung Hobal, Yersey, Emperor of China, Nieuwerkerk, Gunung Banua Wuhu, dan Gunung Sanger.

"Sedangkan gunung api yang di laut paling tidak ada enam gunung api di laut yang juga berpotensi, tapi sebetulnya yang paling berpotensi ini sebetulnya ada dua yaitu, Gunung Hobal dan Gunung Banua Wuhu yang letaknya itu, posisi kedalamannya kurang dari 200 meter. Sehingga ini kalau beraktivitas memang akan menimbulkan pengaruh terhadap pantai atau daratannya," kata dia.

Eko memaparkan tercatat beberapa kali aktivitas gunung api memicu terjadinya tsunami. Badan Geologi, kata Eko, akan memantau aktivitas gunung itu guna memberikan peringatan dini.

"Kalau kita lihat beberapa kejadian tsunami yang disebabkan oleh aktivitas gunung api, ada Anak Krakatau, Tambora, Gunung Werung, Gunung Hobal, dan yang lainnya. Memang secara 24 jam kita awasi agar kita tahu tingkat aktivitasnya sehingga mudah-mudahan tidak terlambat dalam menginformasikan aktivitas yang tinggi jika mungkin potensi erupsi akan diinformasikan kepada pihak yang berwenang," tutur dia.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Eko Budi LelonoKepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono (Foto: Tangkapan layar YouTube BNPB)

Selanjutnya
Halaman
1 2