Menhub Ungkap Persiapan Sektor Transportasi Hadapi Bencana di Indonesia

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 04 Mar 2021 13:21 WIB
Menhub Budi Karya di Rakornas Penanganan Bencana Tahun 2021 (Foto: Tangkapan layar YouTube BNPB)
Foto: Menhub Budi Karya di Rakornas Penanganan Bencana Tahun 2021 (Foto: Tangkapan layar YouTube BNPB)
Jakarta -

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi membeberkan langkah-langkah kementeriannya dalam menghadapi bencana di Indonesia. Di sektor transportasi laut misalnya, Budi mengungkapkan telah memasang sistem peringatan dini di pelabuhan yang rawan bencana.

"Pemasangan warning receiver sistem New generation (WRSnGen) jadi ini ada 1 sistem yang membantu pendeteksian dini terjadinya gempa bumi dan tsunami dan sudah terpasang di 316 lokasi dan tentu di 2021 ini kita akan tingkatkan menjadi lebih dari 100," kata Budi dalam Rakornas Penanganan Bencana Tahun 2021 hari kedua, melalui video yang disiarkan kanal YouTube BNPB, Kamis (4/3/2021).

Selain WRSnGen, Kementerian Perhubungan juga telah memasang 23 vessel traffic service (VTS) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. VTS ini, kata Budi, terintegrasi dengan WRSnGen,

"Kita juga melihat bahwa peringatan dini ini sebagai upaya dari manajemen dan mitigasi risiko. Lokasi-lokasi WRS yang berada di Bakauheni, ada di Bali, ada di Ambon, ada di Teluk Bayur, ada di Marine Command Center, ada di kantor pusat dan juga ada di beberapa tempat-tempat yang lain," ungkapnya.

Tak hanya menyiapkan sistem peringatan dini, Budi mengungkapkan pihaknya juga menyiapkan tim Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), dari mulai kapal hingga awak kapal. Selain itu, rencana jangka pendek, menengah dan panjang juga disiapkan.

Rencana jangka pendek tersebut misalnya menjaga kehandalan kapal-kapal negara kenavigasian dan kapal patroli KPLP sebagai pendukung dalam penanganan bencana. Sementara, jangka menengah, Kemenhub berusaha meningkatkan kompetensi dari personel yang bertugas.

"Jangka panjang kita akan meningkatkan perangkat warning receiver system milik BMKG di pelabuhan-pelabuhan rawan bencana dan terintegrasi dengan sistem yang dimiliki. Seperti yang diketahui tadi banyak daerah-daerah di Indonesia yang berpotensi mengalami bencana yang dahsyat seperti yang ada di Aceh tentunya kita harus melakukan suatu persiapan-persiapan agar bisa menangani apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," papar dia.

Namun, menurutnya, yang paling penting dalam pencegahan bencana adalah koordinasi dan kolaborasi. Budi pun berharap, Rakornas Penanganan Bencana ini bisa membuahkan solusi.

"Pesan yang harus kita sampaikan bahwa tidak ada artinya kita memiliki hal-hal yang banyak tadi tanpa kita melakukan koordinasi dan kolaborasi. Oleh karenanya apa yang dilakukan oleh BNPB hari ini dengan menggunakan suatu pengamatan, pembahasan, diskusi dengan pentahelix kita harapkan bisa memberikan satu solusi bagaimana bila terjadi suatu masalah di lapangan," tutur Budi.

Untuk sektor udara, Budi mengatakan, juga ada sejumlah langkah yang telah dilakukannya. Salah satunya mengupayakan agar bandara yang ada bisa untuk pesawat Hercules mendarat. Sehingga memudahkan proses penanganan bencana.

"Oleh karenanya kita melakukan guide airport ready for disaster (GARD) dengan meliputi pengembangan bandara dan fasilitasnya, kita juga melakukan kesiapan peralatan operasi portabel, kita juga siapkan implementasi dari GARD, kemudian kita koordinasikan internal dan eksternal dan kita tingkatkan SDM menjadi suatu kekuatan yang lebih handal," papar dia.

(mae/dhn)