Ingin Lestarikan Wayang Kulit, Pria Bantul Gelar Karawitan Gratis

Inkana Putri - detikNews
Rabu, 03 Mar 2021 13:24 WIB
Perajin wayang kulit Imogiri
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Bantul - Ketertarikan Ponidi Didot (41) dengan dunia wayang kulit sejak kecil membimbingnya pada kecintaan budaya khas Jawa tersebut. Ia pun belajar membuat wayang hingga kini menjadi salah satu perajin wayang di Ukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

"Kalau mengenal wayang saya sudah sejak kecil, sejak kelas 3 SD. Kebetulan dulu profesi warga di sekitar lingkungan saya perajin. Awalnya lihat-lihat, lalu di sekolah belajar sampai sekarang ini saya sudah bisa mandiri buka usaha sendiri. Kebanyakan di sini otodidak, pas udah lihat kadang udah pengen (buat) Di samping melestarikan budaya (dulu) juga tertarik dengan hasil (pembuatan wayang)," ujarnya kepada detikcom baru-baru ini.

Meskipun pembuatan wayang terlihat rumit, Didot mengatakan dirinya sama sekali tak kesulitan membuat wayang. Jika ditanya tokoh wayang yang paling sulit dibuat, Gatot Kaca adalah jawabannya.

"Kalau kesulitan itu nggak ada semua request dari ukuran yang kecil sampai yang besar sudah pernah buat. Tapi kalau yang paling sulit (dibuat) itu Gatot Koco, tapi kalau udah jadi perajin nggak ada yang sulit karena semua pengen dipelajari," tuturnya.

Kecintaan Didot terhadap wayang ternyata tak hanya sekadar menjadi perajin saja. Agar membuat wayang tetap melegenda di Indonesia, khususnya di lingkungannya, Didot juga sering kali menghadirkan media dan fasilitas belajar untuk anak sekolah.

"Itu kan kadang sekolahan di sini belum ada fasilitasnya, gamelan juga nggak ada. Akhirnya untuk gamelan, media wayang dan tempat nggak apa-apa saya sediakan gratis. Tapi untuk pelatih,me sekolah yang sediakan," katanya.

Melihat antusiasme anak-anak di tempat tinggalnya terhadap wayang, Didot juga sering menggelar karawitan gratis. Sementara untuk kehidupannya ia menawarkan paket belajar membuat wayang dengan harga yang terjangkau.

Perajin wayang kulit ImogiriPerajin wayang kulit Imogiri Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

"Dulu saya jual beli gamelan, tapi kalau dijual dan nggak ada (gamelan) kasian anak-anak kecewa kan nggak bisa belajar. Di daerah sini kan di sekolah-sekolah sudah diajari wayang. Kalau anak-anak di lingkungan sini setiap minggu sekali ada yang karawitan. Saya sediakan tempat dan fasilitas gamelan gratis biar anak-anak senang," katanya.

"Saya juga buka paket untuk mewarnai, memahat. Jadi kita udah waspada biar anak-anak di sini seneng (wayang). Saya bikin paketan belajar mulai dari Rp 35 ribu tergantung kerumitan dan medianya. Kalau yang murah itu bikin untuk gantungan kunci," imbuhnya.

Soal bisnis wayangnya, Didot menyampaikan penjualan wayangnya juga telah merambah pasar mancanegara antara lain Prancis, India dan Suriname. Omzet dari penjualan wayangnya juga cukup tinggi, yakni mencapai Rp 10-15 juta per bulan.

Sebagai perajin, ia mendapatkan modal dari BRI sebesar Rp 25 juta. Dana tersebut dulunya digunakan untuk menambah modal saat mendapat orderan wayang ke Prancis.

Perajin wayang kulit ImogiriPerajin wayang kulit Imogiri Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

"Pada tahun 2012 kan kebetulan saya dapat orderan ke luar negeri, ke Prancis. Waktu itu kekurangan modal dan akhirnya pinjam ke BRI. Awal mula pinjam usaha dari BRI itu sekitar Rp 25 juta. Setelah pinjem BRI, saya juga buka usaha. Dulunya toko saya kecil akhirnya tokonya diperbesar, dulu wayang saya juga dikit sekarang saya komplitin," katanya.

Ke depan, Didot berharap generasi muda dapat terus melestarikan budaya wayang. Mengingat wayang sejak dulu telah menjadi kesenian legendaris di Indonesia, khususnya di Jawa.

"Kalau harapan saya supaya anak-anak generasi sekarang lebih kenal lagi tentang pewayangan, karakternya dan budaya Jawa agar tidak kehilangan untuk melestarikan budaya," tandasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.

Simak juga 'Wayang Kulit Solo, Kesenian yang Masih Lestari di Tanah Jawa':

[Gambas:Video 20detik]



(prf/ega)