Sosok Artidjo Alkostar di Mata Mahfud Md

Tim detikcom - detikNews
Senin, 01 Mar 2021 08:37 WIB
Menko Polhukam Mahfud Md.
Menko Polhukam Mahfud Md. (Dok: Kemenko Polhukam)
Jakarta - Artidjo Alkostar tutup usia. Sosok mantan hakim agung ini begitu membekas bagi Menko Polhukam Mahfud Md.

Artidjo Alkostar, yang menjabat anggota Dewan Pengawas KPK, tutup usia pada Minggu (28/2/2021). Mahfud Md menyebut Artidjo Alkostar sudah lama diawasi karena gangguan di jantung dan paru-paru.

Bagi Mahfud Md, Artidjo Alkostar adalah inspirasi dalam penegakan hukum dan demokrasi. Mahfud mengenang cerita ketika dia berangkat ke Negeri Paman Sam dan pertemuannya dengan Artidjo di sana.

Berikut ini cerita Mahfud Md tentang sosok Artidjo Alkostar:

Pada November 1990 saya berangkat ke Amerika Serikat sebagai academic researcher di Columbia University, New York. Tujuan saya ke Amerika adalah untuk menulis disertasi tentang politik hukum di Indonesia. Saya menulis disertasi di Program Doktor UGM, tapi, alhamdulillah, mendapat beasiswa untuk Sandwich Program ke Amerika melalui library research program di Pusat Studi Asia, Columbia University.

Urusan-urusan saya di Amerika relatif lancar dan mudah karena di sana sudah ada Mas Artidjo Alkostar yang menjemput dan mengatur tempat tinggal dan urusan administrasi saya. Mas Artidjo memang lebih dulu berangkat dan bekerja sebagai volunter di Asia Watch yang dipimpin oleh Sydney Jones di New York. Selama 8 bulan di New York saya punya acara rutin dengan Mas Artidjo. Kalau hari Jumat kami janjian ketemu di masjid untuk salat Jumat di Islamic Center. Kalau Sabtu kami makan siang di restoran Asia, termasuk restoran India. Jika ke restoran India Mas Artidjo suka memesan nasi briyani.

Artidjo bagi saya menjadi semacam inspirator untuk penegakan hukum dan demokrasi. Ketika pada 1978 saya mulai kuliah di UII Mas Artidjo sudah menjadi dosen muda sehingga ikut mengajar saya. Dosen muda yang lain, antaranya, adalah Dahlan Thaib. Kedua dosen muda tersebut menginspirasi saya untuk menjadi dosen. Saya menyukai Dahlan Thaib karena retorikanya sangat bagus, selalu tampil rapi dan handsome sebagai dosen. Saya menyukai Artidjo karena kalau mengajar selalu membawa banyak buku yang tebal-tebal dan membedah kasus-kasus konkret yang pelik-pelik ke dalam buku-buku tebal itu. Saya terinspirasi ingin menjadi dosen dan pejuang yang keren seperti Mas Artidjo. Maka itu begitu lulus dari FH-UII saya langsung mendaftar sebagai dosen, saya tidak pergi ke Jakarta untuk mencoba mencari pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomis. Saya mantap ikut jejak Mas Artidjo.

Artidjo AlkostarArtidjo Alkostar (Ari Saputra/detikcom)

Ketika Mas Artidjo belum pensiun sebagai hakim agung saya pernah menyampaikan protes teman-teman Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Waktu itu ada seorang tokoh papol yang alumni HMI yang hukumannya dinaikkan hampir dua kali lipat dari hukuman di tingkat PN oleh Mas Artidjo. Sebagai Ketua Umum Presidium KAHMI saya sampaikan kritik teman-teman kepada Mas Artidjo karena dianggap menghukum terlalu berat. Sebagai orang hukum saya tahu bahwa hal itu takkan ada gunanya disampaikan kepada Mas Artidjo, tapi saya sampaikan juga sambil tertawa-tawa. Saya sampaikan juga bahwa menurut teman-teman ada kesan umum Pak Artidjo tak pernah menghukum tidak berat orang yang diadilinya, tak pernah mau mengampuni. Apa jawaban Artidjo? "Saya juga alumni HMI tapi saya tetap harus menegakkan hukum dan menghukum koruptor dengan berat meski dia anggota KAHMI", katanya dengan tegas. Soal kesan bahwa dirinya tak pernah tidak menghukum orang itu juga dibantahnya. Dia menunjukkan beberapa vonis yang membebaskan orang yang dijatuhi hukuman korupsi di PN dan PT tetapi ternyata tidak bersalah. Dia hanya dikorupsikan sehingga dibebaskan oleh Mas Artidjo pada kasasi di tingkat MA.

Terakhir kali saya bertemu langsung dengan Mas Artidjo adalah tanggal 18 Agustus 2020. Sehari sebelumnya saya mendapat kabar dari murid setianya Ari Yusuf Amir dan Sugito bahwa Mas Artidjo sakit dan didiagnosis ada masalah dengan jantung dan paru-parunya. Tapi Mas Artidjo tak mau dirawat di rumah sakit meski dokter sangat merekomendasikan. Oleh sebab itu saya meminta tolong kepada Menteri Kesehatan Dokter Terawan untuk bisa dirawat di apartemennya. Menkes mengirim dokter dan perawat ke apatemen Mas Artidjo pada tanggal 18 Agustus 2020 itu dan saya ikut menemuinya di sana. Mendagri Tito Karnavian kemudian juga mengirim adiknya yang dokter ahli jantung untuk merawat kesehatan Mas Artidjo. Hari Minggu, 28 Pebruari 2021, ternyata Mas Artidjo pergi untuk selamanya. Dia menghadap Allah dengan damai.

Simak video 'Momen Jokowi Salati Jenazah Almarhum Artidjo Alkostar':

[Gambas:Video 20detik]






(gbr/isa)